#satwalindung#penyelundupansatwa#beritalampung

Penjual Siamang Terancam 5 Tahun Penjara

( kata)
Penjual Siamang Terancam 5 Tahun Penjara
Foto: Dok

Bandar Lampung (Lampost.co): Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung telah menetapkan Fahrizal Syarif (24), warga Kotabumi, Lampung Utara sebagai tersangka penjualan satwa dilindungi.

Ia ditangkap di dekat Musem Lampung pada 2 Juni 2020, karena menjual 4 anak siamang dan 3 ekor burung hantu. Pelaku menjual satwa tersebut di media sosial Facebook. Siamang dihargai Rp1,7 juta per ekor dan burung hantu Rp700 ribu per ekor.

"Iya setelah dilakukan pemeriksaan sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujar Kabid Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad, Kamis, 4 Juni 2020.

Pelaku dijerat dengan Pasal 21 Ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 Ayat (2) UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Berita terkait: Jual Anak Siamang di Facebook, Warga Lampura Ditangkap

"Diancam 5 tahun penjara, karena siamang termasuk hewan dilindungi," katanya.

Pandra mengatakan pelaku diduga sudah beberapa kali melakukan penjualan satwa liar, namun masih dikembangkan oleh penyidik asal satwa tersebut, termasuk pemasok hingga jalur distribusinya.

"Masih dikembangkan, karena Lampung itu terkadang jadi jalur distribusi satwa dilindungi ke Pulau Jawa, dan sudah banyak juga yang ditindak," katanya. 

Sementara, Seksi BKSDA Bengkulu Seksi III Wilayah Lampung masih melakukan perawatan dan rehabilitasi 4 anakan siamang yang diamankan oleh Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Lampung dari pelaku perdagangan satwa.

"sSementara masih kita rawat di PTS kita, kondisi dalam keadaan baik," ujar Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung Hifzon, Zawahiridi, Kamis, 4 Juni 2020.

Hifzon mengatakan pihaknya masih menunggu arahan dari penyidik dan proses inkrach dari putusan pengadilan untuk melepasliarkan kembali 4 anakan siamang tersebut. Karena biasanya, dibutuhkan sebagai alat bukti di persidangan

"Sementara kita rawat, nanti biasanya kita rilis pas sudah inkrach, kemungkinan kalau tidak di TNBBS atau TNWK," katanya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar