#nuansa

Penjernih

( kata)
Penjernih
Ilustrasi. Dok. MI


MEGAHNYA Balairung Hotel Swissbell Bandar Lampung menyambut 54 peserta uji kompetensi wartawan (UKW) angkatan ke-23, akhir pekan lalu. Namun, dinginnya AC hotel berbintang itu ternyata tidak mampu menyejukkan hati para jurnalis yang bakal diuji untuk jenjang muda, madya, dan utama.

Setelah mengikuti tes antigen, peserta memasuki ruang ujian. Peserta dibagi dalam kelompok yang masing-masing terdiri atas enam orang.

"Duh, aku cuma tidur tiga jam tadi malam gara-gara mau ujian ini," ujar Novi, peserta UKW utama, membuka percakapan di kelompok kami. 

"Wah, sama dong! Saya malah enggak bisa tidur nyenyak. Cuma tidur ayam doang," kata Akhir, yang duduk di sebelah Novi.

Ternyata, bukan cuma saya yang dihantui rasa cemas menjelang ujian. Mata panda jadi penanda kami yang khawatir tidak bisa mengerjakan ujian dengan baik. Kebetulan, penguji kelompok kami adalah Marah Sakti Siregar, yang sering disebut-sebut sebagai penguji killer.

Mau bagaimana lagi. Mundur tidak mungkin. Menunda juga bukan pilihan. Kami bersepakat untuk saling dukung selama ujian. Ternyata dukungan itu ampuh mengusir gundah dari hati. Tahap demi tahap dilewati. Tiap mata uji hanya berdurasi 30 menit, waktu yang terlalu singkat untuk mengerjakan soal yang demikian kompleks.

"Waktu selesai. Setop! Jangan ada lagi yang mengetik!" ujar Marah Sakti kepada kami. "Saya bilang setop mengetik!" kata dia lagi karena masih ada teman yang berusaha menyelesaikan jawaban meski waktu sudah habis. 

"UKW ini tidak hanya menilai pengetahuan, tetapi juga untuk menguji Anda menyelesaikan tugas dalam waktu terbatas. Itu tuntutannya," ujar dia.

Materi yang diujikan antara lain tentang Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU No.40/1999 tentang Pers. Topik itu sangatlah penting karena ternyata didapati masih ada media mainstream yang lemah komitmennya pada KEJ dan UU tersebut.

Pada suatu kesempatan, tokoh pers Bambang Eka Wijaya mengatakan peserta uji yang gagal menjawab soal pertama dengan nilai lulus secara lisan maupun tertulis akan digugurkan seketika (sudden death). Soal pertama itu berisi tentang KEJ dan UU Pers.

Ya, taat KEJ dan UU menjadi fondasi wartawan dalam melakoni profesi. Keduanya perlu terus digaungkan sebagai pengingat bahwa ada rambu yang mesti dipatuhi agar karya jurnalistik yang disiarkan mengusung prinsip keadilan dan bebas dari hoaks. 

Para peserta UKW digadang menjadi agen penjernih informasi. Sebab, saat ini publik amat membutuhkan media yang dapat dipercaya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar