#ekonomi#resesi

Peningkatan Konsumsi Dalam Negeri untuk Menahan Dampak Resesi

( kata)
Peningkatan Konsumsi Dalam Negeri untuk Menahan Dampak Resesi
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Medcom.id.


Jakarta (Lampost.co) -- Ancaman resesi ekonomi yang berkelanjutan akan berdampak pada tatanan kehidupan masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19. Berbagai upaya harus dilakukan agar kelangsungan hidup warga negara tetap terjamin.

"Suka tidak suka, saat ini kita sudah pada satu titik bahwa resesi ekonomi di depan mata. Kondisi itu terlihat dari mulai bermunculannya masalah-masalah sosial dalam keseharian kita," kata Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat saat menyampaikan pengantar dalam diskusi daring yang bertema Meramu resep menghadapi ancaman resesi ekonomi, Kamis, 13 Agustus 2020.

Diskusi yang digelar Forum Diskusi Denpasar12 bekerja sama dengan DPP Partai NasDem Koordinator Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis itu menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Enggartiasto Lukita (menteri Perdagangan Kabinet Kerja 2016-2019), Shanti Shamdasani (president/senior Advisor at ASEAN International Advocacy), Hendri Saparini (founder CORE Indonesia), Berly Martawardaya (direktur Riset INDEF), dan Dianta Sebayang (ketua Pusat Inovasi Bisnis dan Ekonomi/ Dosen Universitas Negeri Jakarta).

Selain itu, dalam diskusi yang dimoderatori  Indra Maulana (head of News Production Medcom.Id) itu, hadir pula Suryapratomo (wartawan senior, Dewan Redaksi Media Group) dan Azrul Tanjung (ketua Komisi Ekonomi Umat MUI) sebagai panelis.

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, pandemi Covid-19 memang sangat berdampak pada sektor ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Legislator Partai NasDem itu menegaskan dengan kondisi ekonomi seluruh negara di dunia dihantui resesi ekonomi, yang terjadi saat ini adalah setiap negara akan berupaya menyelamatkan negaranya masing-masing.

"Pada akhirnya bangsa kita harus berupaya untuk mempertahankan diri dengan kemampuan sendiri dari dampak ancaman krisis ekonomi," ujarnya.

Memang, menurut Rerie, pertumbuhan sejumlah sektor dalam negeri, seperti sektor industri dan perdagangan, saat ini mengalami kontraksi yang signifikan. Namun di sisi lain, katanya, ada sektor yang masih mencatatkan pertumbuhan, seperti pertanian, kesehatan, telekomunikasi, dan IT.

"Dengan kondisi sejumlah sektor mengalami kontraksi, kita harus segera memanfaatkan peluang-peluang yang dimiliki dari sektor yang potensial untuk menahan dampak ancaman resesi," ujar Rerie.

Menteri Perdagangan Kabinet Kerja 2016-2019, Enggartiasto Lukita menilai kondisi saat ini adalah kondisi yang sulit.
Menurut dia, tidak ada satu negara pun yang mempunyai pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 sehingga tidak ada negara yang siap. "Saat ini sisi pasokan dan permintaan sangat terpukul, kondisinya berbeda jika dibandingkan dengan krisis ekonomi 1998," ujarnya.

Tugas pemerintah saat ini, kata Enggartiasto,  adalah mengawal sisi pasokan dan permintaan dalam rangkaiian proses produksi agar tetap terjadi. Karena itu, pemerintah bersama pengusaha harus bahu membahu mengangkat sejumlah sektor potensial dan membuka peluang-peluang pasar yang ada. 

"Mendorong konsumsi domestik dengan mengutamakan membeli produk-produk dalam negeri, bisa diupayakan untuk  menggerakkan ekonomi," ujarnya. 

President/Senior Advisor at ASEAN International Advocacy, Shanti Shamdasani menyambut baik kebijakan "gas dan rem" yang diterapkan pemerintah dalam menghadapi wabah Covid-19 di Tanah Air. "Karena, bila sama sekali tidak ada kegiatan untuk mencegah penyebaran virus, pukulan terhadap sektor ekonomi semakin parah."

Dia juga mengingatkan pemerintah untuk mengandalkan potensi dalam negeri untuk mendorong pertumbuhan. Sebab, opsi berutang untuk mendorong kegiatan ekonomi di dalam negeri akan sulit. Pasalnya, banyak negara di dunia saat ini membutuhkan pinjaman untuk menyelamatkan ekonominya.

Founder CORE Indonesia, Hendri Saparini menilai di tengah ancaman resesi, Indonesia masih bisa berharap dari pertumbuhan konsumsi domestik untuk mengerek perkonomian ke arah positif.

Stimulus ekonomi yang diberikan, menurut dia, jangan hanya dalam bentuk bantuan langsung tunai semata. Lebih dari itu, membuka proyek-proyek atau program padat karya di banyak daerah akan memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih besar.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar