#tumbai#orangabung#peninggalan

Peninggalan di Hutan Bukti Terusirnya Orang Abung dari Dataran Tinggi

( kata)
Peninggalan di Hutan Bukti Terusirnya Orang Abung dari Dataran Tinggi
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

PADA tanah yang subur di antara tepi tenggara Danau Ranau dan aliran Way Robok tinggal orang Abung, penduduk lama keseluruhan pegunungan. Pada awal abad ke-14, terjadi pertempuran hebat di kaki Gunung Pesagi, suku Abung pun dikalahkan. Mereka kemudian diusir dari dataran tinggi dan berpindah melalui lembah-lembah di wilayah timur.

Di dataran tinggi itu sendiri—begitu menurut cerita dari Negarabatin—masih dapat dikenali peninggalan mereka berupa kuburan, dinding, batu-batu, tempat pemakaman, dan kompleks pertanian yang terbengkalai yang dapat dijumpai di seluruh wilayah hutan belantara.

Pada musim gugur 1953, Funke singgah di wilayah-wilayah tersebut dan mencoba menggali informasi lebih banyak dari pemimpin adat Batubrak dan Kenali mengenai penduduk lama. Sesekali diperoleh cerita bahwa suku lama itu disebut dengan Tumi's.

Westenenk juga mengetahui tentang Tumi's atau Boda's. Dalam Boda, ingatan atas kelompok pendatang Hindu dari pusat budaya Melayu bernama Pelambung hingga wilayah Danau Ranau kemungkinan tetap ada. Penggambaran relief pada menhir di Air Upu dan batu di Bawang bukan menunjukkan pengaruh Buddha, melainkan Hindu.

Penemuan megalitik di dataran tinggi memiliki hubungan erat dengan yang ditemukan di permukiman orang Abung dulu. Menhir-menhir dan batu ubin sederhana menunjukkan kemiripan dengan penemuan megalitik di daerah Pasemah bagian utara, tetapi tidak memiliki hubungan terkecil dengan batu-batu yang lebih maju di wilayah utara yang dipandang sebagai peninggalan pengaruh budaya maju kolonisasi Hindu.

Jika Paminggir di dataran tinggi hingga kini masih menceritakan pertempuran dengan penduduk lama yang mereka usir, yang dapat diambil dari hal ini adalah bahwa pihak yang terusir tidak langsung menuju ke dataran rendah bagian timur. Tentu saja mereka tetap tinggal di bagian timur pegunungan selama beberapa waktu.

Lembah-lembah pada arus Way Giham, Way Umpu, dan Way Besai tidak memiliki tanah subur seperti di wilayah tenggara Danau Ranau. Namun, boleh saja disebabkan kondisi alami sebagai tempat hunian. Sayangnya, hingga kini tidak berhasil untuk meneliti wilayah di daerah sumber Way Giham dan Way Umpu atas jejak adanya orang Abung di daerah tersebut. Kemungkinan, wilayah ini masih menyimpan beberapa lokasi megalitik yang kini tersembunyi di dalam lebatnya hutan hujan tropis.

Lembah raksasa di Way Besai atas memberikan dokumen megalitik terbesar di Indonesia yang terletak di bagian timur, di tepi sungai kecil Way Pitai kompleks Kebuntebu. Tidak jelas apakah barisan menhir dan dolmen dibuat oleh kelompok orang Abung yang diusir dari dataran tinggi Kenali atau berasal dari bagian Abung lainnya yang telat menetap sejak zaman dahulu di lembah bagian timur pegunungan ini.

Hal itu juga memungkinkan bahwa kelompok yang terusir dari pegunungan ini mula-mula masih bermukim di wilayah itu di pegunungan bagian timur, di samping anggota suku yang berlokasi di sana.

Funke tidak mendapatkan bukti bahwa kelompok Abung telah menetap di dataran rendah setelah pergantian milenium. Ke yang lainnya diceritakan bahwa Paminggir diganggu oleh suku-suku dari pegunungan yang terusir di tempat tinggalnya yang baru mereka taklukkan. Ini memungkinkan jika orang Abung tinggal di wilayah gunung yang berbatasan langsung di wilayah timur.

Namun, lembah dan lembah sungai di pegunungan di bagian timur itu harus segera ditinggalkan oleh orang Abung. Wilayah yang sulit dicapai hingga kini, kemungkinan pada abad ke-14 mengalami gangguan luar biasa yang akibatnya membawa petaka bagi orang Abung.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar