Flyoverunderpass

Pengukuran Lahan Untuk Flyover Urip Sumoharjo Diwarnai Cekcok

( kata)
Pengukuran Lahan Untuk Flyover Urip Sumoharjo Diwarnai Cekcok
Foto. Lampost.co/Salda Andala


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Proses pengukuran lahan untuk pembangunan flyover dan underpass di Jalan Kimaja-Urip Sumoharjo diwarnai cekcok antara petugas dengan pemilik tanah, Rabu, 8 April 2020.

Pantauan lampost.co, megaproyek yang rencananya akan dibangun usai lebaran Idulfitri tersebut mendapat penolakan dari warga yang terimbas. Tampak di depan rumah warga sebuah baleho penolakan pengukuran.

Supriyanto (51) mengatakan, ia dan warga lain menolak adanya pengukuran lahan karena dinilai uang ganti rugi tidak sesuai di awal musyawarah, tetapi petugas pengukur lahan dan pemerintah setempat memaksakan untuk mengukur.

"Sudah jelas musyawarah awal nilai UGR pembangunan Rp5 juta, tiba-tiba turun jadi Rp1,5 juta. Kami ingin dihargai Rp5 juta karena membangun kembali bisa lebih dari itu, harga material bangunan sudah pada mahal. Kami mendukung tetapi pikirkan juga nasib kami ke depan," ujarnya kepada Lampost.co.

Sementara Said, warga lain, berharap semua pihak menjalankan dahulu maklumat pusat yakni menghindari keramaian untuk memutus wabah korona.

"Baru setelah itu kita musyawarah kembali masalah pengukuran biar tidak ada keributan yang terjadi," ujarnya.

Ia meminta petugas jangan memaksakan pengukuran tanah, karena bila terus dipaksakan warga akan semakin marah.

Tampak di lokasi pihak Babinsa, dan Kamtibmas Kelurahan Surabaya merelai percekcokan antar warga dan pihak pengukur lahan pembangunan.

Sementara Lurah Surabaya, Muslimin tidak banyak berkomentar terkait penolak warga tersebut. "Mana yang mau diukur ya kami ukur, yang tidak mau ya tidak masalah," tutupnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar