#beritalampung#beritadaerah#lampung#illegal#logging

Penguatan Pengawasan Register 22 Way Waya Mendesak

( kata)
Penguatan Pengawasan Register 22 Way Waya Mendesak
KPH, Mitra KPH dan Polhut usai penangkapan pembalak di Kota Batu. (Lampost.co)


GUNUNG SUGIH (Lampost.co) -- Penguatan pengawasan hutan Register 22 Way Waya sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Jika tidak, penebangan kayu illegal akan terus terjadi. Hasil tangkap tangan beruntun belakangan ini membuktikan serangan atas hutan kawasan semakin gencar.

Beberapa personel dari KPH dan 10an Mitra KPH harus mengawasi jalur sepanjang puluhan kilometer dari Sendangmulyo sampai Linggapura. Para pengawas hutan ini bergerak tanpa biaya operasional dari negara. Mulai bensin sampai makan, bahkan sekedar kopi sebagai penghangat saat berjaga, harus biaya sendiri.

Amir, salah satu mitra KPH mengatakan dari titik pengintaian yang satu ke titik yang lain harus melalui jarak tempuh berjam-jam dengan sepedamotor. Dari 30an mitra, hanya 8-10 orang yang aktif.

"Kalau yang aktif ya yang kemarin itu. Lihat sendiri kan waktu penangkapan Jumat," kata dia kepada Lampost.co, Sabtu (7/4/2018).

Usef, mitra KPH yang lain, mengatakan aktif mengawasi register 22 Way Waya sejak akhir tahun lalu. Menurut dia, sejak awal tidak ada biaya operasional untuk itu. Semua biaya sendiri.

"Kadang tidak pulang dua hari karena harus nyanggong. Biaya sendiri, ga mau lah nuntut-nuntut. Tapi kalau ada, mungkin lebih maksimal," kata dia.

Diketahui, register 22 Way Waya membentang dari Sendangmulyo, Kecamatan Sendangagung di bagian selatan hingga Linggapura, Kecamatan Selagailingga di bagian utara. Bentangan ini meliputi banyak kampung, diantaranya Sendangmulyo, Sendangrejo, Sendangasih, Sendangbaru, Sendangagung, Sendangretno, yang masuk wilayah Kecamatan Sendangagung. Selain itu, Kota Batu Kecamatan Pubian dan Linggapura Kecamatan Selagailingga. Kampung-kampung tersebut juga menjadi titik-titik rawan pembalakan liar yang membutuhkan pengawasan.

Kondisi jalan untuk bergerak dari satu kampung-ke kampung lain di wilayah Sendangagung, sudah lebih mudah dibanding ke Pubian atau Selagailingga. Wilayah yang luas membuat siapapun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bergerak dari satu titik pengawasan ke titik yang lain.

Pada Kamis (5/4) malam, Lampost.co mencoba melintas dari Sendangmulyo ke Kota Batu melalui jalur kampung. Setidaknya membutuhkan waktu dua jam perjalanan, karena jalanan berbatu. Bagi yang sudah terbiasa, paling cepat 1,5 jam. Jika dilanjutkan sampai Linggapura, tambah sekitar satu atau 1,5 jam. Jalur hutan yang lebih pendek bisa ditempuh, tetapi pada saat pengawasan, tidak mungkin menggunakan jalur tersebut, karena akan mengacaukan pengintaian.

Selain KPH dan Polhut, pengawasan intensif di register 22 Way Waya dilakukan juga oleh Mitra KPH. Tatang Ismail menjelaskan, ada delapan anggota Polhut untuk wilayah register 22 Tangkittebak-Way Waya. Artinya delapan anggota tersebut terbagi untuk wilayah register di Lampung Utara dan Lampung Tengah. Sementara Mitra KPH seluruhnya berjumlah 68 orang. Sebanyak 38 di Tangkittebak (Lampura), 30 orang lainnya di Way Waya (Lamteng). Dari 30 mitra yang ada di Lamteng, yang aktif tak lebih dari 12 orang. Tatang membenarkan, tidak ada biaya operasional dari pemerintah untuk mitra yang bergerak mengawasi, mengintai dan menangkap pelaku pembalakan liar.

"Kalau mitra hanya itu-itu saja. Kalau yang aktif betul ada delapan, tambah yang hanya ikut kadang-kadang jadi sekitar 12 orang, tidak lebih," kata dia.

 

Wahyu Pamungkas







Berita Terkait



Komentar