flyoverpedagang

Pengrajin Rotan di Jalan Sultan Agung Kian Merana

( kata)
Pengrajin Rotan di Jalan Sultan Agung Kian Merana
Salah satu lapak pengrajin rotan yang berada di pinggiran Jalan Sultan agung, Bandar Lampung, Kamis 2 Juli 2020. Deta Citrawan

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kegiatan pembangunan fisik sejatinya pasti memberikan dampak terhadap sekitar lokasi. Baik itu dampak negatif maupun positif tentunya muncul seiring berjalannya progres kegiatan.

Tidak terkecuali pada proses pembangunan jalan layang atau flyover yang berada di Jalan Sultan Agung, Kedaton, Bandar Lampung. Pembangunan yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) setempat sejak tahun lalu itu mulai dilaksanakan terhitung sejak Juni 2020.

Akibatnya banyak pedagang di sekitar pinggiran jalan itu harus memundurkan lapak dagangan mereka, dan bahkan juga ada yang mencari lokasi baru sebab di lokasi lama telah tergusur kegiatan kontruksi.

Salah satu pedagang yang masih menetap yaitu pedagang kerajinan berbahan dasar rotan. Meskipun tidak terkena penggusuran langsung, namun si pemilik khawatir omzet penghasilan dari penjualan kerajinan miliknya menurun terlebih di tengah pandemik covid-19 ini. 

"Waktu gempar Covid-19 sekitar Maret lalu itu paling parah, sampai makan modal untuk keperluan sehari-hari. Karena enggak bisa dagang sama sekali, nah ini lagi ada pembangunan flyover ya mudah-mudahan masih bisa laku banyak," ujar Afdol pemilik lapak kerajinan rotan, Kamis, 2 Juli 2020.

Dirinya menyikapi adanya pembangunan flyover itu memiliki tujuan untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas yang kerap terjadi di sepanjang Jalan Sultan Agung, terutama pada jalur perlintasan kereta api.

"Kita juga tau sih nanti kalau ada flyover paling enggak jalan sini sudah enggak terlalu macet lagi. Tapi khawatirnya juga ada, karena kebanyakan pedagang di bawah flyover tutup kayak di Untung, itu banyak tutup karena terhalang flyover," ungkapnya. 

Dirinya berharap di tengah situasi pandemik korona ini, barang dagangannya kembali banyak pembeli. "Kalau waktu normalnya bisa sampai Rp10juta per hari, ini belum menentu untuk bayar sewa tempat aja sudah sulit ini," pungkasnya.

Winarko



Berita Terkait



Komentar