#UMKM#kuliner

Pengrajin Kuliner Kulit Lumpia di Lampura Butuh Dukungan Permodalan

( kata)
Pengrajin Kuliner Kulit Lumpia di Lampura Butuh Dukungan Permodalan
Pengrajin kulit lumpia, warga Dusun Madyodadi, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, Fitriani, membuat kulit lumpia untuk memenuhi pesanan pelanggan dikediamannya, Selasa, 1 Juni 2021. Lamposy.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co) -- Usaha pembuatan kulit lumpia menjadi salah satu pilihan bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM). Dengan pertimbangan, pemasaran produk tersebut masih terbuka lebar dengan olahan yang tidak hanya menyasar satu-dua jenis produk kuliner semata. 

"Kulit lumpia digunakan sebagai pembungkus makanan jajanan pasar. Selain untuk membuat lumpia, kulit lumpia digunakan untuk membuat pisang coklat (piscok), risoles, martabak telur, dan dadar gulung" ujar pengrajin kulit lumpia di Dusun Madyodadi, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara (Lampura), Fitriani, Selasa, 1 Juni 2021. 

Baca: Mal Boemi Kedaton Mengakomodasi Pemasaran Produk UMKM

 

Untuk pesanan kulit lumpia, rata-rata masih di seputar wilayah perdesaan. Selain dari para pedagang makanan, pemesan juga datang dari para ibu-ibu jemaah pengajian.

"Kalau untuk konsumsi pengajian hanya pada saat-saat tertentu saja. Untuk pesanan rutin datang dari pengrajin kuliner," katanya. 

Dalam seminggu, rata-rata mendapat tiga kali pesanan. Sekali pesan biasanya berisi seratus lembar kulit lumpia dengan harga Rp25 ribu.

"Kalau diecer harga per lembar kulit lumpia saya banderol Rp200," ungkapnya. 

Fitriani berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa membantu para penggiat UKM berupa akses permodalan.

"Saya belum pernah menerima bantuan permodalan dari pemerintah. Bila ada bantuan saya ingin mengembangkan usaha kuliner ini" kata dia. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar