#pengeboman#gereja#filipina#internasional

Pengeboman di Gereja Filipina, 20 Tewas 

( kata)
Pengeboman di Gereja Filipina, 20 Tewas 
Aparat keamanan berada di lokasi ledakan ganda di sebuah gereja di Jolo, provinsi Sulu, Mindanao, Senin 28 Januari 2019. (Foto: MNTV/AFP )


JOLO (Lampost.co)--Pengeboman di sebuah gereja Katolik di Filipina yang menewaskan 20 orang, diklaim dilakukan kelompok militan Islamic State (ISIS) di sebuah gereja Katolik di Filipina menganggu upaya pemerintah dalam mengakhiri pemberontakan dan separatisme berkepanjangan di wilayah selatan.

Dua ledakan mengguncang gereja di pulau Jolo, Provinsi Sulu, pada Minggu (27/1/2019). Ledakan pertama terjadi saat misa berlangsung, dan yang kedua ketika petugas keamanan datang ke lokasi.

Sejumlah pakar menyuarakan kekhawatiran mereka mengenai dampak dari serangan ini terhadap proses perdamaian di wilayah selatan yang diupayakan pemerintah Filipina sejak berdekade-dekade. Perdamaian ini sebenarnya sudah terlihat di depan mata, saat mayoritas warga Filipina selatan mendukung pembentukan wilayah otonom Bangsamoro via sebuah referendum.
"Ini tantangan besar bagi pemerintah Bangsamoro," kata Rommel Banlaoi, Kepala Philippine Institute of Peace, Violence and Terrorisme Research, seperti dikutip dari laman AFP, Senin (28/1/2019).

Menurutnya, grup pemberontak terbesar di Filipina -- Moro Islamic Liberation Front (MILF) -- harus dapat menunjukkan bahwa mereka dapat membawa wilayah otonom Bangsamoro menuju perdamaian. Situasi kondusif diperlukan agar wilayah otonom tersebut dapat mengundang banyak investor, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan.
"MILF harus membuktikan bahwa mereka dapat membuat perbedaan. Masalah yang dihadapi MILF saat ini sangat luar biasa besar," tambah Banlaoi.
Pakar ekonomi World Bank Andrew Mason juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. "Ini adalah tragedi kemanusiaan dan juga pembangunan," ungkap dia.
"Saat kita melihat area-area konflik, di mana situasinya terkadang naik atau turun karena terkena dampak aksi kekerasan, sebenarnya yang terlihat dari pihak kami adalah hilangnya suatu kesempatan untuk mendorong pembangunan di wilayah tersebut," lanjut dia.
Grup pemantau aktivitas intelijen SITE menyebutkan bahwa ISIS mengklaim ledakan di gereja Jolo lewat sebuah komunike formal di internet. ISIS menyebut dua militannya meledakkan diri di gereja tersebut.
Namun kepolisian Filipina menyebut bom kedua berada di sebuah kotak di sepeda motor di luar area gereja. Diyakini bom itu diledakkan dari jarak jauh.

MTVN







Berita Terkait



Komentar