#covid-19#pendidikan

Pengaruh Korona di Pendidikan Tinggi

( kata)
Pengaruh Korona di Pendidikan Tinggi
ANTARA /ARI BOWO SUCIPTO. Pengajar menunjukkan cara kerja prototipe ventilator hasil inovasinya di Laboratorium Universitas Brawijaya (UB) Tech, Malang, Kamis (30/4).

Jakarta (Lampost.co) --  Pandemi virus korona baru (Covid-19) berpengaruh pada bidang pendidikan tinggi. Pengaruh Covid-19 berpengaruh pada proses belajar mengajar, penerimaan mahasiswa baru, pembiayaan kuliah, dan lainnya.

Proses penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021, termasuk terkendala akibat pandemi Covid-19.

Pada penerimaan jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) misalnya. Meski hasil seleksi telah diumumkan dan calon mahasiswa baru bisa melakukan pendaftaran ulang secara daring, namun pendaftaran yang bersifat administrasi fisik kemungkinan ditunda hingga situasi kembali normal.

Sedangkan pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2020 dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) juga
telah diubah, yang seharusnya dilaksanakan pada 2-20 Juni 2020. UTBK 2020, karena pandemi Covid-19 diputuskan dilaksanakan pada 5-12 Juli 2020 dan pengumuman SBMPTN dilakukan pada 25 Juli 2020.

“Harapannya pada waktu itu kita sudah melewati masa puncak pandemi, meskipun kita tetap harus mengikuti protokol dalam pelaksanaan
tes misalnya dengan jarak yang lebih jauh antarbangku. Kemudian isi ruang kelas yang lebih sedikit dibandingkan dengan kondisi normal dan protokol-protokol yang lain,” katanya.

Ia menambahkan, dalam seleksi masuk perguruan tinggi itu jumlah mata ujian juga dikurangi dari biasanya ada tes potensi akademik (TPA), sekarang hanya tes potensi skolastik (TPS). Sehingga memungkinkan kita untuk melakukan penjarakan tempat duduk saat tes,” imbuhnya.

Tahun ajaran baru diperkirakan masih akan dilaksanakan sesuai jadwal, yaitu sekitar pertengahan Agustus 2020. Jika pandemi masih berlangsung, tidak menutup kemungkinan semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 akan kembali dilaksanakan secara jarak jauh.

Keringanan biaya kuliah

Pandemi Covid-19 juga berpengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok ekonomi bawah. Oleh sebab itu, Kemendikbud telah menyiapkan empat skema untuk meringankan beban mahasiswa yang perekonomian keluarganya memburuk akibat Covid-19. Pertama, mahasiswa dapat mengajukan penundaan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) hingga kondisi membaik. Kedua, mahasiswa dapat mengajukan penurunan besaran UKT jika level ekonomi keluarga tiba-tiba berubah akibat pandemi.

Ketiga, mahasiswa dapat membayar UKT dengan sistem mencicil. Keempat mahasiswa yang memenuhi kriteria tidak mampu dapat menggunakan program bantuan dari pemerintah KIP-K.

“Jadi tidak ada anak yang tidak bisa kuliah karena alaasan ekonomi,” tambah Nizam.

Rangsang kreativitas

Ternyata pandemi Covid-19 tidak melulu menimbulkan dampak negatif bagi sektor pendidikan tinggi. Kondisi ini justru mampu meningkatkan kreativitas mahasiswa sehingga mereka dapat menghasilkan karya yang dapat dimanfaatkan untuk penanganan Covid-19.

“Selama pandemi ini kita mengimbau perguruan tinggi untuk melajukan berbagai kegiatan yang bisa membantu untuk memitigasi pandemi ini, salah satunya melalui penelitian-penelitian perguruan tinggi dan itu dilakukan banyak yang dengan swadaya, ada juga dana pribadi dari dosen, banyak sekali hasilhasil penelitian yang bisa langsung diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat maupun teman-teman medis,”
ungkap Nizam.

Adapun beberapa karya yang telah dihasilkan oleh perguruan tinggi untuk penanganan Covid-19 antara lain, alat pelindung diri (APD)
seperti masker dan protective coverall, face shield, hand sanitizer, public sanitized hand wash, filter udara, disinfectant chamber, serta alat kesehatan seperti robot ners, ventilator atau alat bantu nafas, hingga UV sterilisasi.

Beberapa alat kesehatan bahkan telah lolos uji dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan sudah mendapat izin untuk segera diproduksi.

“Pemenuhan alat-alat kesehatan, kita masih impor. Tiba-tiba kita seperti disadarkan oleh korona ini bahwa kita perlu membangun kemampuan dalam negeri di dalam mengembangkan alat kesehatan. Dalam waktu satu bulan teman-teman berhasil membuat berbagai macam alat kesehatan yang tadinya kalau kita lakukan di waktuwaktu normal mungkin butuh waktu 2-3 tahun untuk mengembangkan alat-alat tersebut, seperti ventilator misalnya,” ucapnya.

Menurut Nizam, ke depan semangat positif ini harus terus dijaga meski pandemi Covid-19 telah berakhir, sehingga anak bangsa mampu membangun kemandirian teknologi dan memiliki basis industri dalam negeri yang kuat.

“Jadi tinggal bagaimana kita bersama-sama antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi bergandengan tangan untuk bisa membangun kedaulatan teknologi kita ke depan. Jadi ada hikmah yang bisa diambil dari Covid dalam hal ini,” tandasnya.

Media Indonesia



Berita Terkait



Komentar