#minyakgoreng#hargapangan

Pengamat Nilai Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Rawan Penyimpangan

( kata)
Pengamat Nilai Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Rawan Penyimpangan
Ilustrasi minyak goreng satu harga di minimarket. (Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kebijakan minyak goreng satu harga Rp14.000/liter untuk masyarakat berpotensi rawan penyimpangan. Oleh sebab itu, semua pihak perlu aktif melakukan pengawasan dan melaporkan bila ada kejanggalan dalam implementasi program tersebut di lapangan.

Untuk menjamin ketersediaan minyak goreng tersebut setelah pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah mempersiapkan dana senilai Rp7,6 triliun yang digunakan untuk membiayai penyediaan minyak goreng bagi masyarakat sebesar 250 juta liter per bulannya.

Hal tersebut disampaikan Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori. Ia mengatakan kebijakan minyak goreng murah sangat membantu masyarakat tetapi rawan diselewengkan. Pertama, penerapan harga minyak goreng yang dimulai olah pasar ritel modern dirasa tidak tepat sasaran.

"Kebanyakan masyarakat yang tidak mampu ini belanjanya di pasar tradisional, seharusnya lebih dahulukan pasar tradisional. Kebanyakan yang beli di pasar ritel modern ini kan orang-orang yang mampu. Ini gak adil," kata Khudori melalui telepon, Kamis, 20 Januari 2022.

Baca juga: Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga di Ritel Bandar Lampung tak Mulus

Dia melanjutkan untuk yang kedua, penyebaran distribusi minyak goreng murah ini kurang merata. Karena tidak semua daerah-daerah memiliki pasar ritel modern. Oleh sebab itu, di beberapa titik ada yang stoknya langsung habis bahkan sampai punic buying. Sementara di beberapa daerah lainnya stok masih berlimpah.

Ketiga, adanya pengusaha yang culas. Mungkin saja di bulan kedua ada pengusaha yang mempunyai banyak alamat toko kemudian order minyak goreng murah untuk dikirim kepada gudang tertentu lalu ditimbun kemudian dijual kembali saat momen tertentu dengan mencari keuntungan.

"Bisa saja nanti dioplos dan dijual kepada daerah tertentu. Atau kemungkinan terburuk bisa dijual ke pasar luar negeri dengan harga yang tinggi oleh pengusaha yang culas ini," ujarnya.

Khudori juga berpendapat bila nanti harga CPO dunia turun pastinya ada keseimbangan harga minyak goreng baru, tetapi akankah minyak goreng akan ikut turun juga? Belum tentu ikut turun. Oleh sebab itu, harus serius dalam mengimplementasikan kebijakan dan melakukan evaluasi serta pengawasan. Sehingga tidak ada oknum-oknum yang mengambil keuntungan. 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar