#bandarnarkoba#bandarsabu#beritalampung

Pengamat: Hukuman Mati Pantas untuk Bandar Narkoba Yang Kembali Berulah

( kata)
Pengamat: Hukuman Mati Pantas untuk Bandar Narkoba Yang Kembali Berulah
Humas Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang Hendri Irawan. Lampost.co/Salda Andala

Bandar Lampung (Lampost.co): Pengamat hukum Universitas Lampung (Unila) Budiono menilai hukuman mati pantas diberikan untuk seorang bandar narkoba yang telah divonis 17 tahun penjara namun tetap berulah dengan mengendalikan sabu-sabu seberat 41,6 kg dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1A Bandar Lampung.

"Tuntutan jaksa harus lebih berat. Menurut saya hukuman mati yang lebih pas, karena sudah menjalankan hukuman namun tetap mengendalikan narkoba seberat 41,6 kg," ujarnya kepada Lampost.co, Senin, 29 Juni 2020.

Menurutnya tidak ada alasan untuk terdakwa Jepri Susandi (42) di hukum penjara, karena perbuatannya telah menyebabkan kerusakan kehidupan bagi banyak orang yang sebagian besar adalah anak-anak muda yang mestinya adalah jadi generasi penerus. "Hukuman mati memang layak dijatuhkan kepada mereka," kata dia lagi.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Hendri Irawan mengatakan jadwal sidang tuntutan atas nama Mutasir bin Muhtar, Suhendra bin Kasmin, Jepri Susandi, Hatami, dan Supriyadi dilakukan pemisahan berkas pidana. Sidang sudah dua kali mengalami penundaan.

"Sampai saat ini sudah dua kali penundaan tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum siap dengan tuntutanya," ujarnya.

Ia menambahkan jadwal sidang tuntutan selanjutnya akan dilakukan pada Kamis, 2 Agustus 2020.

"Dalam satu berkas ada yang dua terdakwa, ada yang satu terdakwa," pungkasnya.
 
Sebelumnya, ulah Jepri Susandi warga Tangerang, Banten menjadi bandar narkoba kelas kakap yang meresahkan masyarakat Lampung. Jepri akan menjalani tiga kali persidangan dari dua perkara yang berbeda.

Sebelumnya, penangkapan Jepri berawal dari tertangkapnya dua kurir narkoba asal Aceh yakni Zawil Qiram dan Silman, serta penerima sabu milik Jefri, warga Bandar Lampung yakni Ade.
Dari tangan Jefri pun disita barang bukti seperti mobil, perhiasan, buku tabungan, ponsel, hingga surat tanah yang nominalnya mencapai Rp1,9 miliar. Semuanya merupakan hasil tindak pidana pencucian uang dari menjual sabu.

Belakangan, setelah dikembangkan total barang bukti perkara tersebut sebanyak 13 kg dan Jefry pun divonis 17 tahun penjara di PN Tanjungkarang pada Senin, 20 Januari 2020. Ketika ditahan di Rutan Kelas IA Bandar Lampung atau Rutan Way Hui, Jefri pun kembali berulah dengan mengendalikan peredaran sabu seberat 41,6 kg.

Perkara tersebut pun diungkap kembali oleh BNNP Lampung pada 4 Desember 2019. Dia mengendalilan barang haram tersebut bersama beberapa orang yang saat itu menjadi tahanan di Rutan Kelas IA Bandar Lampung yakni Hatamimi dan Supriyadi. Sementara kurir bernama Ifran Usman, meregang nyawa karena ditembak opsnal BNNP saat hendak ditangkap.

Pada perkara peredaran sabu 41,6 kg tersebut, Jefri dan pelaku lainnya masih menjalani sidang tuntutan.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar