#Narkoba

Pengacara Bingung, Terpidana Mati Kasus Sabu-sabu Kembali Dituntut 12 Tahun Penjara 

( kata)
Pengacara Bingung, Terpidana Mati Kasus Sabu-sabu Kembali Dituntut 12 Tahun Penjara 
Sidang Terpidana Hukuman Mati kasus narkotika 41,6 Kg kembali di tuntut 12 tahun. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jefri Susandi (41), terpidana mati kasus narkotika 41,6 kilogram kembali dituntut jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Lampung dengan pidana penjara selama 12 tahun.

Tuntutan 12 tahun jaksa itu dianggap membingungkan lantaran Jefri merupakan terpidana yang sudah divonis hukuman mati.

"Yang kami bingung bagaimana nanti penerapan JPU? Dia (terdakwa) sudah divonis mati, hari ini dituntut lagi 12 tahun," kata penasihat hukum terdakwa, Rifki, Selasa, 5 Januari 2021. 

Jefri kembali disidang lantaran didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang atas penjualan sabu-sabu yang menjeratnya hingga divonis mati. Atas tuntutan itu, Rifki akan mempersiapkan nota pembelaan pada pekan depan.

Sidang kasus sabu-sabu 41,6 kg ini sudah beberapa kali tertunda lantaran jaksa belum siap atas tuntutan yang akan diberikan kepada terdakwa.

Penasihat hukum terdakwa seblumnya, Achmad Kurniadi, mengatakan saat sidang tuntutan nanti diharapkan jaksa bisa membawa bukti dengan jelas bahwa harta bergerak atau pun tidak adalah hasil tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Karena selama masa persidangan dari dakwaan sampai keterangan saksi tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan semua harta bergerak maupun tidak yang disita BNN hasil dari TPPU itu sendiri," katanya.

Sidang kasus pencucian uang bandar narkoba ini pun tergolong paling lama di Pengadilan. Diketahui sidang dakwaan dibacakan pada 15 September 2020 namun hingga kini tak kunjung usai lantaran beberapa penundaan dengan berbagai alasan yang tidak jelas.

Pengadilan Negeri Tanjungkarang menyidangkan perkara tindak pidana pencucian uang dengan terdakwa Jefri Susandi (41) warga Perumahan Puri Hijau, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, terpidana hukuman mati kasus narkotika dengan barang bukti 40 bungkus plastik alumunium foil warna merah berisikan kristal putih dengan berat keseluruhan 41.608,06 gram.

Di persidangan virtual di Pengadilan Negeri Tanjungkarang pada September 2020 lalu, Jaksa Rosman Yusa mengatakan pada 2015 terdakwa melakukan transaksi jual beli narkotika. 

Sebanyak lima kali terdakwa melakukan transaksi narkotika, Pada 2018 terdakwa memesan barang dari Muzakir dengan berat 1/2 kg dengan nilai Rp350 juta.

"Narkoba itu terdakwa jual kembali kepada Deni Black seberat 250 kg dengan harga Rp400 juta dalam kegiatan tersebut terdakwa mendapat keuntungan Rp50 juta," kata jaksa.

Lalu pada 2019 terdakwa kembali menerima paket sabu 1 kg dari Muzakir dengan harga Rp700 juta. Kemudian dijual kembali kepada Deni setengahnya dengan harga Rp400 juta, kepada Denis seperempatnya dengan harga Rp200 juta dan kepada Darius seperempat kg dengan harga Rp200 juta.

"Keuntungan yang diterima terdakwa dari penjualan narkotika 1 kg tersebut Rp100 juta," kata jaksa.

Dalam berbisnis narkotika, terdakwa menyimpan uang di beberapa rekening bank dan asuransi. Di antaranya BCA Rp203 juta atas nama Isma Novalia dan Rp24 juta atas nama yang sama. Lalu, buku tabungan BCA atas nama Eva Liana dengan saldo Rp356 juta, serta buku tabungan lainnya.

"Dari hasil berbisnis narkotika, terdakwa juga membeli beberapa bidang tanah, kendaran berupa mobil dan motor," kata jaksa.

Perbuatan terdakwa diancam pidana Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar