#pajak#pemkot

Penerapan Tapping Box di Restoran Bandar Lampung Belum Maksimal

( kata)
Penerapan Tapping Box di Restoran Bandar Lampung Belum Maksimal
Ilustrasi. Google Images


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Penggunaan tapping box atau alat perekam transaksi oleh pelaku usaha restoran di Bandar Lampung dinilai belum maksimal. Terbukti pada saat penindakan empat restoran beberapa hari lalu didapati pemilik resto memakai alat lain atau nota biasa. 

Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Bandar Lampung Yanwardi mengatakan sebagian besar pelanggaran yang dilakukan para pelaku usaha restoran ditindak kemarin tidak menggunakan alat yang dianjurkan Pemkot setempat. 

"Kami melihat pemanfaatan tapping boxnya masih kurang setelah turun dan melihat langsung tempo hari. Terutama Begadang II hasilnya penyampaian setoran mereka tidak sesuai, Rp150 juta perbulan asumsi kami dan disetor hanya Rp50 juta sampai Rp60 juta," ujarnya, Rabu 9 Juni 2021.  

Begitu juga pada warung bakso Sony mereka memakai dua alat cash register, BPPRD memperkirakan penghasilan satu resto bakso Sony Rp80 hingga Rp100 juta per bulan, dan yang disetorkan ke pemerintah hanya Rp30 juta.  

"Geprek Bensu juga sama persoalan mereka adanya tunggakan setoran sejak tahun 2019 dengan jumlah total tunggakan sekitar Rp300 juta. Rumah makan Padang Jaya sama estimasi potensi kami Rp16 juta sebulan, dan tapping box tidak dipakai bahkan hanya pakai kertas nota biasa," kata dia. 

Dirinya menginformasikan berdasarkan 500 alat tapping box yang telah terpasang dan tersebar di seluruh tempat usaha, mulai dari hotel, restoran, hiburan, parkir yang aktif dan berjalan hanya 50 persen saja. 

"Tapping box ini kan saran dari KPK RI dan itu sudah Pemkot jalankan, agar berbagai transaksi bisa  transparansi. Dan hasil kami penindakan kemarin pun sudah disampaikan ke KPK," ujar dia.

Winarko







Berita Terkait



Komentar