#newnormal#pandemicovid-19#wabahcovid-19#ekbis

Penerapan New Normal Akan Jaga Stabilitas Harga

( kata)
Penerapan New Normal Akan Jaga Stabilitas Harga
Ilustrasi. Foto: Google Images

Bandar Lampung (Lampost.co): Menyikapi adanya harga bahan pangan yang naik dan turun. Kepala Dinas Perindustian dan Perdagangan Provinsi Lampung, Satria Alam, mengatakan bahwa naik turunnya harga bahan pangan sudah sering terjadi dan akan selalu terjadi seiring proses panen hingga penjualan yang selalu berganti-ganti.

Ia mengatakan bahwa akan mengupayakan agar harga bahan pokok yang mengalami kenaikan dan penurunan harga tidak akan berlangsung lama ditambah dengan adanya penerapan new normal.

"Dengan adanya penerapan new normal, masyarakat diprediksi akan memenuhi kebutuhan hidup seperti biasa, sehingga stabilitas harga cabai terjamin dan masyarakat dapat berbelanja lagi dengan biasa, namun tetap terapkan protokol kesehatan," kata dia, kepada Lampung Post, Minggu, 31 Mei 2020.

Baca juga: Harga Bawang Meroket, Cabai Merosot Tajam

"Mungkin untuk masalah bawang merah dari Brebes memang sudah mahal, jadi disini jual harga yang gak jauh beda dari awal beli," kata dia.

Menurutnya, faktor cuaca yang akibatkan proses panen bawang merah tidak seperti biasa, sehingga hasil yang tidak banyak dan harga jual jadi naik.

"Bawang merah ini memang karena faktor cuaca jadi hasil panen tidak seimbang dengan kebutuhan masyarakat makanya harga naik," ujarnya.

Untuk cabai merah, lanjut dia, penurunan harga terjadi karena stok yang banyak dari panen sehingga petani memberikan harga murah hingga ke pedagang yang ada di pasar.

"Harga cabai memang yang saat ini jatuh karena permintaan masyarakat yang menurut serta jumlah panen yang banyak," kata dia.

Sementara itu, pengamat ekonomi pembangunan, Yoke Muelgini, menilai bahwa naik dan turun harga komoditas pertanian merupakan fenomena biasa atau yang biasa di sebut dengan supply and demand. 

"Jadi memang penerapanya biasa disebut ekses demand atau harga naik dan ekses suplai atau harga turun. Kenapa disebut fenomena, karen ini merupakan gejala musiman saja," kata dia saat dihubungi Lampung Post.

Menurutnya, saat ini justru sangat banyak harga-harga komoditas yang alami penurunan, dan yang naik hanya sedikit. "Mengenai penurunan harga bisa karena faktor panen yang banyak akibatkan stok melimpah," jelas dia.

Di sisi lain, wabah virus covid-19 juga menjadi satu faktor menyebab stok pangan melimpah yang diakibatkan dari menurunnya minat beli masyarakat rendah akibat kekhawatiran keluar rumah akan terinfeksi virus corona.

"Kestabilan harga meningkatkan kesejahteraan, itu merupakan kunci utama. Dan memang ada beberapa langkah yang harus difokuskan pemerintah untuk antisipasi permasalahan ini, khususnya untuk harga bahan pokok yang melambung," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah harus lakukan kebijakan mulai dari merelaksasi biaya marketing dengan utamanya sektor transportasi dan distribusi barang-barang, serta memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para petani serta lembaga pemerintah seperti BI dan OJK perlu menurunkan suku bunga dan rescheduling hutang sektor UMKM yang berhenti beroperasi.

"Itu jadi beberapa faktor untuk upaya stabilisasi harga, seperti yang saat ini terjadi yakni bawang merah," ujarnya.

Mendukung faktor internal, tambah dia, seperti bahan baku, teknologi, dan inovasi untuk mempertahankan produktivitas adalah cara lain untuk stabilisasi harga serta stop impor komoditas secara bertahap dan dananya dialihkan atau dipakai untuk mendorong ekonomi domestik.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar