#GEMPA#SULBAR

Peneliti Kaji Cepat Gempa yang Melanda Majene-Mamuju

( kata)
Peneliti Kaji Cepat Gempa yang Melanda Majene-Mamuju
Kondisi Kantor Gubernur Sulbar usai diguncang gempa. Foto: Istimewa


 

Sulawesi Barat (Lampost.co) -- Para peneliti gempa bumi telah melakukan kajian cepat terhadap gempa bumi yang melanda Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, 15 Januari lalu. Dari hasil rekonstruksi gempa terdahulu dan sekarang, Kepala Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP)  Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko,menyebutkan bahwa Mamuju Majene adalah endemik gempa bumi dan tsunami. 

"Mamuju-Majene secara historis adalah endemik gempa bumi dan tsunami. Potensi tertarget berdasarkan data dari Pusat Gempa tahun 2017 adalah magnitudo di atas 7 atau >M7," ujar Widjo Kongko melalui keterangan tertulis yang diterima mediaindonesia.com (Grup Lampost.co), Kamis, 4 Februari 2021.

Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 dengan kedalaman 10 km dan pusat gempa di darat berjarak 6 km timir laut Majene telah menewaskan 73 orang dan 27.850 orang mengungsi. Widjo Kongko juga mengatakan bahwa BTIPD telah melakukan kaji cepat gempa bumi Majene Mamuju dengan mengolah data dari USGS, Pusat Gempa, BMKG, Profesor Benyamin Sapiie dan pakar geologi Danny Hilman Natawidjaja.

Dari hasil pengolahan data disebutkan bahwa Sulawesi Barat pernah mengalami sejumlah peristiwa gempa besar disertai tsunami. Tercatat data gempa terakhir adalah  gempa 23 Februari 1969 pada pukul 8.37.04 Wita dengan magnitudo 6,9. Lokasi gempa di laut 74 km ke arah barat laut Majene dengan kedalaman 15 km. 

 "Dampak gempa menyebabkan kerusakan rumah di sepanjang pantai termasuk dermaga pelabuhan di wilayah Mamuju dan Majene," ujarnya. 

Gempa dengan mekanisme sesar naik ini memicu tsunami 4 meter di Malunda dan 1,5 meter di Tubo menyebabkan rumah-rumah terbuat dari kayu hanyut serta merusak perkebunan di wilayah itu. Tsunami tersebut menyebabkan 64 orang meninggal dan 97 orang luka-luka serta merusak 1.287 rumah.Dari olah data seluruh kajian menunjukkan najwa ada Tektonik Setting dan Seismik menunjukkan secara jelas Majene-Fold-Thrust-Belt. Kemudian dari hasil rekonstruksi tsunami menggunakan simulasi model longsor bawah laut menunjukkan potensi tinggi tsunami kecil sedang dengan waktu tiba cukup singkat yaitu 5 hingga 20 menit.  

"Citra satelit menunjukkan adanya land deformation pada radius 50 km dari sumber gempa. Land deformation itu berupa penurunan tanah, longsor atau likuefaksi. Untuk itu survei lapangan diperlukan guna keperluan sains dan mitigasi termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi," pungkasnya.

MI







Berita Terkait



Komentar