#thalasemia#kesehatan#beritalampura

Penderita Thalasemia di Lampura Mengharap Penambahan Dosis Obat

( kata)
Penderita Thalasemia di Lampura Mengharap Penambahan Dosis Obat
Susetyo (40) dan Eva Putriana (36) memangku anaknya Miftahul Imam Ma'ruf (5), penderita thalasemia warga Desa, Batu Nangkop, Kecamatan Sungkai Tengah, dikediamannya, Jumat (29/5/2020).  LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO

Kotabumi (Lampost.co): Susetyo (40), orangtua bocah penderita thalasemia asal Lampung Utara, mengharapkan dosis obat untuk anaknya dapat terpenuhi. Obat tersebut untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi darah rutin.

Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua yang menyebabkan penderitanya mengalami anemia atau kurang darah. Penderita mesti rutin menerima transfusi darah pada waktu-waktu tertentu. Bila tidak segera dilakukan, dapat berisiko bagi penderita dan risiko yang terburuk adalah kematian. 

"Anak saya, Miftahul Imam Ma'ruf (5) mesti rutin melakukan tranfusi darah setiap tiga minggu sekali sebanyak 1 kantong ukuran 250 cc agar tetap beraktivitas normal seperti anak-anak pada umumnya. Bila terlambat, air muka anak saya pucat, lemas, dan nafas agak sesak," ujar Susetyo warga Desa, Batu Nangkop, Kecamatan Sungkai Tengah, dikediamannya, Jumat, 29 Mei 2020.

Transfusi darah dilakukan di rumah sakit umum daerah (RSUD) Ryacudu, Kotabumi. Bila stok darah tidak ada, dia terpaksa mesti ke RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

"Efek buruk tranfusi darah, kata dokter menyebabkan penumpukan zat besi di dalam tubuh. Kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi berupa penyakit liver atau penyakit jantung. Karenanya kami mendapatkan obat untuk menghilangkan atau menarik zat besi yang berlebih yang ada di dalam darah," kata dia. 

Untuk obat yang diberikan adalah deferiprone, deferasirox, dan deferoxamine. Hanya saja, merujuk keterangan dokter di RSUD Abdul Moeloek, paling tidak untuk mencegah efek buruk timbunan zat besi dalam darah, paling tidak dibutuhkan tiga dosis atau tiga pil setiap hari. 

"Pengambilan obat untuk menghilangkan zat besi dalam darah yang mesti rutin di konsumsi penderita thalasemia setiap hari di RSUD Ryacudu Kotabumi, hanya saja dosis yang diterima satu pil atau satu dosis untuk satu hari," ujarnya. 

Menurut dia, dari keterangan penyedia layanan di rumah sakit, jumlah dosis obat thalasemia terbatas karenanya dosis yang diberikan dibatasi agar dapat rata terbagi untuk penderita thalasemia yang lain.

"Jumlah penderita thalasemia tidak banyak tercatat dari komunitas thalasemia di Lampura ada 35 orang dan keluhan mereka adalah sama, yakni kurangnya dosis obat," kata dia menambahkan.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar