#gangguanjiwa#depresiparah#kesehatanjiwa#bunuhdiri

Penderita Gangguan Jiwa Rawan Bunuh Diri

( kata)
Penderita Gangguan Jiwa Rawan Bunuh Diri
Ilustrasi--Pexels

Jakarta (Lampost.co): Seseorang yang mengalami depresi atau gangguan jiwa, dan tidak tertangani, berisiko mengakhiri paksa hidupnya. Berpeluang besar bunuh diri.

Seseorang yang menderita depresi butuh teman. Utamanya, orang-orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, dan perawat kesehatan.

"Puskesmas di layanan primer punya peran penting dalam pelayan jiwa. Dalam sistem rujukan JKN kita tempatkan di rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa," kata Sekretaris PP Perhimpunan Dokter Spesiali Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Agung Frijanto di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Agung, peranan keluarga sangat penting mencegah depresi menjadi lebih parah. Upaya pencegahan pun harus dilakukan di lingkungan lain, seperti sekolah.

"Poinnya bagaimana memberikan pemahaman kepada orang tua dan guru-guru di Sekolah Dasar. Pada kondisi remaja atau SMP/SMA kita bisa mendeteksi dini, kita bagikan instrument atau daftar pertanyaan untuk mengetahui apakan remaja tersebut depresi atau tidak," terang Agung.

Pencegahan bisa mulai dilakukan ketika muncul gejala depresi. Gejala depresi dapat dilihat dari tiga aspek, yakni aspek afek, kognitif, dan fisik.

Gejala depresi pada afek dapat ditandai dengan sedih, kehilangan minat, iritabilitas. Kemudian, apatis, anhedonia, tak bertenaga, tak bersemangat, isolasi sosial, dan aniestas.

Sedangkan, gejala depresi secara kognitif dapat dicirikan dengan sikap rendah diri, konsentrasi menurun. Daya ingat menurun, ragu-ragu, rasa bersalah, dan ide bunuh diri.

Selain itu, secara fisik dapat dilihat dari psikomotor menurun, fatigue, gangguan tidur. Pengaruh juga dari gangguan nafsu makan dan hasrat seksual menurun.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, perilaku bunuh diri karena depresi sudah mencapai angka kritis. Secara global WHO menyebutkan lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahun atau sekitar satu orang setiap 40 detik bunuh diri.

Tingkat prevalensi angka bunuh diri di negara berpenghasilan tinggi ternyata lebih tinggi dibandingkan di negara berpenghasilan rendah atau menengah. Persentasenya, 12,7 persen banding 11,2 persen per 100.000 populasi.

Contoh 3 negara terbesar akan kasus bunuh diri per 100.000 populasi, di antaranya Guyana, Korea, dan Sri Lanka. Di Indonesia belum ada angka prevalensi nasional.

"Menurut penelitian dikatakan bahwa angka bunuh diri di Jakarta pada 1995-2004 mencapai 5,8/100.000 penduduk. Begitupun laporan dari WHO pada 2010 menyebutkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 persen per 100.000 jiwa," terang Anung.

medcom.id



Berita Terkait



Komentar