#hukum#pencabulan

Pencabul Murid Didakwa Pasal Perlindungan Anak

( kata)
Pencabul Murid Didakwa Pasal Perlindungan Anak
Terdakwa yang diduga mencabuli murid mengajinya saat menjalani sidang di PN Tanjungkarang. Lampost.co/Ahmad Amri

Bandar Lampung (Lampost.co) --Terdakwa guru mengaji yang diduga melakukan pencabulan terhadap muridnya didakwa jaksa dengan undang-undang perlindungan anak. Kelakuan bejat terdakwa dilakukan di rumahnya saat mengajar mengaji.

Sidang dengan terdakwa MY (39) berlangsung tertutup di PN Tanjungkarang Kelas 1A Bandar Lampung, Rabu, 18 Desember 2019, dengan agenda pembacaan dakwaan. Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Jhony Butar Butar dengan Jaksa Elis Mustika.

Terdakwa didampingi tujuh penasihat hukum yang dipimpin Fathul. Selain itu, keluarga terdakwa turut mendampingi.

Jaksa Elis dalam dakwaannya mengatakan terdakwa melakukan pencabulan terhadap muridnya saat mengajar mengaji di rumahnya di Gulak Galik, Telukbetung Utara, Bandar Lampung pada 13 Agustus 2019. Perbuatan tersebut baru dilaporkan pada 16 Agustus 2019.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 76 E jo Pasal 82 Ayat (2) dan Ayat (4) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang–Undang No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang," kata Jaksa.

Sidang selanjutnya akan digelar kembali pada 8 Januari 2020 dengan agenda nota keberatan dari pengacara terdakwa. "Kami akan memyampaikan nota keberatan karena sejak awal di tingkat penyidikan hingga persidangan terdakwa masih konsisten menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan mencabuli santriwatinya," kata Fathul.

Dia menjelaskan pernyataan tersebut bukan tanpa alasan karena terdakwa setiap mengajar selalu dibantu istri dan murid lainnya yang sudah berusia di atas 19 tahun.

"Jadi alibinya kuat terlebih lagi, jika tuduhan tersebut dikatakan dilakukan ketika terdakwa sedang mengajar mengaji sambil mencabuli muridnya hal yang tidak masuk akal atau logika," ujarnya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar