#sidang#penasihathukum

Penasihat Hukum Syamsul Arifin Meragukan Keahlian Saksi Ahli

( kata)
Penasihat Hukum Syamsul Arifin Meragukan Keahlian Saksi Ahli
Debat antara hakim dan jaksa dalam sidang Syamsul Arifin, Jumat, 6 November 2020. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dua saksi ahli yang dihadirkan jaksa dalam sidang lanjutan perkara mantan ketua Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesian (AKLI) Lampung di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Jumat, 6 November 2020, dimentahkan penasihat hukum terdakwa. Keduanya dianggap tidak bisa menjelaskan secara rinci apa yang ditanya pengacara terdakwa.

Penasihat hukum Syamsul Arifin, Jono Parulian Sitorus, meragukan keahlian dua saksi ahli karena beberapa pertanyaan yang dilontarkan pihaknya, jawabannya tidak dapat dijelaskan secara rinci. Jono menanyakan kepada ahli bahasa apakah setelah beberapa kali menanyakan suatu persoalan namun tidak ada jawaban dan kemudian penanya menyatakan klau yang ditanya bodoh/tolol apakah masih dapat diartikan tidak pantas, ahli bahasa terlihat bingung.

Karena dinilai tidak paham sepenuhnya dengan bahasa, Jono lantas mengatakan, "Kami meragukan keahlian dari saksi ahli yang dihadirkan hari ini," katanya.

Persidangan juga beberapa kali diwarnai bersitegang lantaran bukti-bukti yang dihadirkan jaksa dimentahkan oleh Hakim Ketua Jhonny Butarbutar. Menurut Hakim, jaksa menerangkan bukti di luar dari BAP yang ada di persidangan. Namun, jaksa berkeyakinan berkas bukti itu sudah dilimpahkan bersamaan dengan BAP namun terpisah dan ada bukti penyerahan/penitipan barang bukti ke pengadilan.

"Sidang kedua saya sudah singgung mengenai ini dan hari ini tetap tidak ada dalam berkas perkara. Semestinya harus ada dalam berkas ini. Menurut saudara ini barang bukti? Dalam berkas tidak ada ini semestinya dimasukkan dalam berkas perkara," kata Hakim Jhonny.

Jaksa yakin barang bukti sudah ada dan dilimpahkan secara bersama, namun terpisah karena hal itu dibuktikan adanya surat pernyataan barang bukti dari panitera muda (panmud) Tindak Pidana Umum.

"Anda sudah berapa tahun jadi jaksa? tanya hakim

Jaksa lantas menjawab, "Sudah 20 tahun."

"Saya sudah 30 tahun jadi hakim. Yang kita bicarakan di sini adalah fakta, apakah berkas (bukti) ada di dalam sini, tidak ada kan," kata Hakim ketua.

Saksi ITE Muhammad Said Hasibuan dalam kesaksiannya mengatakan persoalan yang dihadapkan dalam persidangan merupakan persoalan sudah sangat lama atas hal itu dia perlu mengingat-ingat terlebih dahulu.

"Karena ini sudah lama tujuh tahun lalu saya perlu mengingat-ingat terlebih dahulu karena sangat banyak perkara yang saya tangani," kata saksi ahli ITE ini.

Hakim menanyakan hasil screenshot apa yang didapatkan ketika itu. Saksi menjawab hasil percakapan SMS.   

"Apakah di tahun itu (2013) sudah ada screenshot," kata hakim.

"Sudah ada dan bisa digunakan melalui komputer, di situ ada aplikasinya, ponsel dihubungkan dengan komputer," ujarnya. 

Sementara ahli bahasa dari Kantor Bahasa  Lampung, Kiki mengatakan arti kata tolol dan bodoh yang menjadi persoalan dalam persidangan kasus ini ada banyak makna, seperti susah mengerti, tidak lekas mengerti.

"Apa makna dari kalimat tersebut," tanya jaksa.

"Pengertian kata tolol sangat bodoh, bodoh itu tidak lekas mengerti, tidak mengerti, susah mengerti," katanya.

"Apakah pantas? Kalau pantas tidak mungkin ada laporan, berarti tidak pantas," ujarnya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar