#kekerasananak#asusila#damar

Penanganan Kasus Asusila Penyandang Disabilitas di Way Kanan Dinilai Lambat

( kata)
Penanganan Kasus Asusila Penyandang Disabilitas di Way Kanan Dinilai Lambat
Foto: Dok


Bandar Lampung (Lampost.co): Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak Damar mengeluhkan lambatnya penanganan perkara asusila korban MGO (18), dengan terlapor R (75), warga Blambangan Umpu, Way Kanan.

Kuasa hukum korban dari advokat Damar Meda Fatmayanti mengatakan MGO diduga menjadi korban asusila sejak 2018, pada saat dirinya berusia 16 tahun. Apalagi korban menyandang berkebutuhan khusus atau disabilitas intelektual.

"Dari keterengan korban dan keluarganya sudah berulang kali yang dia ingat saja ada 10 kali, sejak dia berusia 16 tahun, sampai April 2020 kemarin," ujarnya di kantor Damar, Senin, 28 september 2020.

Meda memaparkan perkara ini dilaporkan ke Polsek Blambangan Umpu dengan LP/B-313/VI/2020/Polda LPG/Res WK/Sek Umpu pada 6 Juni 2020. Korban juga sudah membuat visum et repertemu di RSUD Zainal Abidin Pagar Alam, Way Kanan.

"Pada 7 September 2020kemarin Damar berkoordinasi dengan Wadirreskrimum Polda Lampung atas lambatnya penanganan perkara tersebut, dan dihasilkani nformasi bahwa terdapat kendala dalam proses penyelidikan, sehingga proses hukum dihentikan untuk sementara waktu. Setelah mendapat petunjuk dari Wakil Direktur Reskrimum Polda Lampung, Kapolsek Blambangan Umpu menyatakan bersedia melanjutkan proses hukum korban atas nama MGO, namun belum progres," ujarnya.

Kemudian setelah mendapatkan informasi kendala dari Kepolisian Sektor Blambanga Umpu, maka pada 8 September 2020, Tim Penanganan Kasus Lembaga Advokasi Perempuan Damar telah membantu mengurai hambatan yang disampaikan oleh Penyidik Polsek Blambangan yakni memeriksa saksi ahli psikater di RSJ Pemprov Lampung.

Damar memfasilitasi untuk dilakukan pemeriksaan psikologi forensik bagi korban pemerkosaan atas korban. Damar juga pada 21 September 2020 untuk membantu mengurai hambatan visum et repertum dengan bukti tambahan. Damar bekerja sama dengan Tim Pekerja Sosial Dinas Sosial Provinsi Lampung untuk membantu mengadirkan dan mendampingi 4 orang saksi yang mengetahui dan mendengar adanya dugaan asusila tersebut.

Pada 22 September 2020, Damar berkoordinasi dengan Polsek Blambangan Umpu untuk perkembangan penyelidikan dan didapat informasi bahwa penyidik telah memeriksa saksi-saksi. Namun, masih ada beberapa saksi lagi yang harus diperiksa yakni saksi yang melihat langsung.

"Sedangkan diketahui bahwa peristiwa hukum pemerkosaan tidak akan terjadi apabila ada saksi yang melihat. Juga diketahui bahwa saksi yang dimaksud adalah cucu kandung pelaku dan tetangga dekat dengan pelaku," paparnya.

Meda mengatakan saat ini kondisi korban dan keluarganya cukup trauma dengan kondisi terintimidasi oleh pihak keluarga terlapor, sehingga tidak berani kembali ke desa tempat tinggalnya.

"Maka untuk itu tidak memungkinkan untuk proses hukum dilakukan di wilayah Kepolisian Kabupaten Way Kanan. Sehingganya pada 24 September 2020, Damar menyurati Kapolda Lampung Cq. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung untuk mengambil alih proses penyelidikan dan penyidikan," katanya.

Karena, menurut Meda sarat dengan intimidasi dari pihak pelaku (karena posisi rumah korban dengan pelaku berdekatan), maka saat ini korban beserta keluarga untuk sementara waktu ditempatkan di Rumah Perlindungan Trauma Center Dinas Sosial Provinsi Lampung (Rumah Aman).

"Perempuan disabilitas rentan menjadi korban kekerasan seksual karena keterbatasan fisik, mental, dan intelektual. Diantara mereka yang paling rentan adalah disabilitas intelektual dan disabilitas pendengaran. Saat ini kekerasan seksual yang dlalami perempuan korban penyandang disabilitas yang dirasa sangat sulit untuk mendapat keadilan," kata dia.

Eksekutif Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak Damar Selly Fitriyani menyebutkan keterangan dari Polres setempat, dalam proses penyelidikan, aparat lebih mengedepankan suara (aspek) dari pihak terlapor bukan dari pihak korban.

"Penyidik di Polsek Blambangan Umpu, Polres Way Kanan, belum memiliki perpesktif keadilan korban," ujarnya.

Karena korban dan keluarga. menurut Selly, trauma dan terintimidasi, maka Damar juga akan melaporkan dan meminta bantuan dari Lembaga Penjamin Saksi dan Korban (LPSK),

"Agar LPSK dapat membantu ketika korban memberikan keterangan dalam kondisi aman dan nyaman, bahkan keluarganya pun trauma," katanya.

MGO (18) dan keluarga saat ini berada di rumah aman, Dinas Sosial Provinsi Lampung. Mereka sudah berada di rumah aman sejak tiga minggu yang lalu dan takut pulang ke Way Kanan.

"Korban dan keluarga trauma, mereka enggak mau pulang ke sana, sebelum pelaku ditangkap. Bahkan cenderung si korban omongannya ingin bunuh diri," ujar Elyana,

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar