#rokok#cukai#harga

Penaikan Cukai Diyakini Pangkas Perokok Aktif

( kata)
Penaikan Cukai Diyakini Pangkas Perokok Aktif
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihartono. Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Jakarta (Lampost.co): Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meyakini, meski ini bukan satu-satunya cara, penaikan cukai akan memangkas jumlah perokok aktif di Indonesia.

 

"Kemenkes menyatakan ini bagian dari upaya mengurangi," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Anung Sugihartono, di Jakarta Selatan, Selasa, 17 September 2019.

Anung mengatakan, pemerintah bisa memperketat aturan pembelian dan iklan rokok jika ingin maksimal mengurangi jumlah perokok aktif. Pemerintah juga harus gencar mengedukasi masyarakat tentang bahaya rokok.

Anung menilai kenaikan harga rokok bisa membuat masyarakat beralih menggunakan rokok elektrik. Sebab, rokok elektrik dinilai murah dengan aturan yang tak ketat.

"Vape (rokok elektrik) adalah modus baru yang belum diatur regulasi," ujar Anung.

Anung menyebut langkah pemerintah bisa menekan jumlah perokok pemula. "Kemenkes tetap bersikap, cukai sebagai cara meminimalisasi dampak, kita ingin setinggi-tingginya yang bisa meminimalisasi dampak negatif kesehatan," ujar Anung.

Harga Rokok akan Naik 35 Persen

Pemerintah memutuskan tarif cukai rokok naik menjadi sebesar 23 persen dan harga rokok eceran naik menjadi 35 persen. Keputusan itu berlaku per 1 Januari 2020.

Pemerintah memproyeksikan penerimaan cukai tahun depan bisa mencapai Rp173 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

Adapun keputusan penaikan tarif cukai rokok bertujuan mengurangi konsumsi dan peredaran rokok ilegal, mengatur industri, serta menambah penerimaan negara.

medcom.id



Berita Terkait



Komentar