#sumpahpemuda #kepemudaan #mediagroup

Pemuda Harus Beri Solusi, Bukan Jadi Sumber Masalah

( kata)
Pemuda Harus Beri Solusi, Bukan Jadi Sumber Masalah
CEO Media Group Mirdal Akib. Istimewa


Jakarta (Lampost.co) -- CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib mengomentari demontrasi penolakan Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) yang dilakukan dari Senin, 5 Oktober hingga Rabu, 28 Oktober 2020. Pemuda-pemuda Indonesia terlibat dalam aksi. 

Mirdal mengakui penyampaian pendapat itu dibutuhkan untuk iklim demokrasi tetap tumbuh. Hanya saja, dia memandang pemberian solusi jauh lebih dibutuhkan. 

"Pemuda lebih baik memberikan solusi daripada mengeluarkan masalah," kata Mirdal dalam diskusi daring bertema Kontribusi Nyata Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2020.

Pemuda sudah seharusnya menjadi solusi dengan berkotribusi. Bentuk kontribusi yang diberikan pun bisa beragam. Dia optimistis Indonesia maju jika seluruh pemuda terlibat.

Dia mengisahkan 99 persen pemuda pada 1945 tidak bisa baca tulis. Namun, kontribusi pemuda membuat Indonesia merdeka.

"Jadi, seluruh potensi untuk berkembang maju dan berkarya dimiliki oleh pemuda saat ini," ujarnya.

Berita terkait: Media Academy Hadir Mengisi Celah Dunia Kerja dan Kuliah

Mirdal mendorong pemuda berkontribusi positif untuk membantu permasalahan di masyarakat sekitar. Melamar pekerjaan buka satu-satunya jalan yang harus ditempuh pemuda Indonesia.

Dia mencontohkan kontribusi nyata pemuda yang menginisiasi PT Aruna Jaya Nuswantara, Wahyoo, menjadi penulis buku atau memberi kontribusi lain. Dia mengharapkan pemuda-pemuda lain melakukan hal serupa. 

Pemuda berkontribusi

Aruna adalah perusahaan teknologi yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan. Misinya untuk menciptakan ekosistem perdagangan ikan dan hasil laut yang berkelanjutan dan adil bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya, seperti nelayan dan pembeli. 

Aruna ingin menginspirasi penggunaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, mengingkatkan taraf hidup masyarakat, dan juga keberlanjutan ekosistem kelautan.

Co-Founder Aruna, Utari Octavianty, mengaku mendapat banyak rintangan dalam berkontribusi bagi Indonesia. Misalnya, dicegat nelayan dengan menggunakan tombak. Utari menyikapinya dengan melakukan pendekatan demi mengubah pola pikir nelayan.

"Kami jadikan mereka anggota tapi dengan catatan, nelayan harus mendapat akses ke Aruna. Tujuannya untuk kontrol dan mendapatkan win-win solution. Ini meingkatkan penghasilan nelayan," ujarnya.

Aruna membekali pemuda pesisir yang paham teknologi. Nelayan yang awam tekonologi, diberikan kartu yang secara tidak langsung terkoneksi dengan tekonologi.

Kontribusi nyata pemuda lainnya adalah Wahyoo. Ini merupakan perusahaan tekonologi yang memberikan nilai tambah dan bermanfaat bagi warung-warung di Indonesia, terutama membuka peluang usaha.

Co-Founder Wahyoo, Peter Shearer mengatakan sudah lebih dari 13 ribu warung makan bergabung menjadi bagian keluarga besar warung makan digital Wahyoo. Ribuan warung makan itu tersebar di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Wahyoo juga menawarkan kepada masyarakat untuk bergabung berjualan ayam goreng bikin tajir (AGBT). Peter mengatakan sudah banyak masyarakat menjadi penjual AGBT.

"Kami harus bisa terus berpikiran positif terutama saat pandemi Covid-19 untuk terus maju. Kami harus menjadi pemecah masalah dan memberikan solusi dan kami harus peduli bukan hanya untuk bisnis tapi juga kehidupan orang banyak," ujarnya.

Terakhir penulis dan aktivis gender, Kalis Mardiasih. Perempuan berusia 28 tahun itu telah menerbitkan beberapa buku tentang Islam. Salah satunya Hijrah Jangan Jauh-Jauh Nanti Nyasar dan Muslimah yang Diperdebatkan.

Kalis mengaku menulis buku untuk mengubah pola pikir masyarakat yang acap hanya membahas tentang surga dan neraka.

"Ada hal lain yang perlu diketahui masyarakat dan saya pergi ke sejumlah daerah untuk menuliskan buku-buku saya," kata anggota Sekretariat Nasional Jaringan Nasional Gusdurian itu.

Medcom







Berita Terkait



Komentar