#Humaniora#Sosial#Gangguan-Jiwa

Pemuda di Banjaragung Dua Tahun Hidup di Kerangkeng

( kata)
Pemuda di Banjaragung Dua Tahun Hidup di Kerangkeng
Ilustrasi oleh Medcom.id.

MENGGALA (Lampost.co) –- Seorang pemuda di Kecamatan Banjaragung, Kabupaten Tulangbawang, dikerangkeng keluarganya. Kondisi tersebut dilakukan lantaran korban kerap mengamuk dan merusak barang milik tetangga.

Waras (35) warga Kampung Tunggalwarga hidup dalam ruangan berukuran sempit. Dua tahun ini orang tuanya mengerangkeng putra pertama mereka itu agar tidak membahayakan warga sekitar.

"Kami terpaksa mengkerangkeng dia karena sering mengamuk saat kambuh. Kami takut nanti malah dia mencelakai orang lain," kata Wagimin orang tua Waras, Sabtu 7 Desember 2019.

Waras menempati kamar berada di sisi belakang rumah orang tuanya. Agar tidak kabur, Wagimin membuatkan kamar tempat mengkerangkeng Waras dalam terali besi lengkap dengan gemboknya.

Di kamar itu, Waras hidup bak di dalam penjara. Tempat tidurnya hanya beralaskan karpet lusuh. Segala aktivitasnya terbatas. Waras menjalani kehidupan seharinya-harinya di dalam kamar.

Waras makan, mandi, buang air kecil, dan besar serta tidur di dalam kamarnya itu. Wagimin pun membuatkan kamar mandi, agar Waras tidak keluar masuk kamar tempatnya dikerangkeng.

Dia mengaku, terpaksa mengurung putranya dalam sebuah ruangan kecil di dalam rumahnya. Pihak keluarga mengaku tidak sanggup harus menanggung biaya ganti rugi akibat ulah putranya.

"Sebelum dikerangkeng Waras suka merusak rumah dan perabotan tetangga. Ujung-ujungnya jadi beban, karena harus ganti. Makanya terpaksa kami beginikan," kata Wagimin.

Wagimin menjelaskan, putra sulungnya itu saat kecil tumbuh normal. Namun, ketika putranya beranjak dewasa, Waras tiba-tiba berubah menjadi laki-laki tempramental.

"Iya awalnya biasa aja. Enggak ada masalah sama dia. Tapi mulai menginjak usia 20 tahunan ia mulai sering marah-marah. Menurut pemeriksaan medis Waras mengalami gangguan jiwa," katanya.

Wagimin mengaku, keterbatasan biaya menjadi salah satu faktor keputusan mengkerangkeng Waras. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari Waras, ia mengandalkan belas kasih dari para tetangga.

"Kami enggak ada duit, Mas. Untuk makan saja pas-pasan, bagaimana bisa membawa dia berobat ke rumah sakit jiwa. Kami berharap pemerintah memberikan bantuan agar anak saya ini bisa diobatin," ujar dia.

Caption: Waras orang dengan gangguan jiwa saat di kerangkeng. (Ferdi Irwanda)

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar