#KEDELAI

Pemprov Lampung Upayakan Peningkatan Produksi Kedelai Lokal

( kata)
Pemprov Lampung Upayakan Peningkatan Produksi Kedelai Lokal
Ilustrasi.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya meningkatkan produksi kedelai lokal. Pasalna dalam empat tahun terakhir produksi terus mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya karena dipengaruhi oleh permintaan yang menurun.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung, Kusnardi mengatakan upaya peningkatan dilakukan salah satunya penggunaan kedelai lokal untuk sejumlah bahan makanan.

"Faktor yang mempengaruhi turunnya produksi kedelai lokal diLampung salah satunya karena pembeli yang kurang dominan, karena saat ini masih banyak kedelai impor yang mudah didapat dengan kualitas yang bagus," kata Kusnardi, Senin, 12 September 2022.

Tercatat berdasarkan data dari Dinas KPTPH produksi kedelai lokal di daerah setempat pada 2018 mencapai 53.553 ton dengan luasan lahan tanam 70.012 hektare. Sementara produksi pada 2019 mengalami penurunan menjadi 9.334 ton dengan luasan lahan tanam 12.318 hektare.

Kemudian pada 2020 produksinya hanya 1.570 ton dengan luas lahan tanam 2.497 hektare dan 2021 produksinya hanya 1.317 ton dengan luasan lahan tanam 1.922 hektare.

"Penurunan permintaan tersebut membuat para petani tidak lagi bersemangat untuk menanam kedelai dan memilih untuk beralih ke komoditas lain seperti jagung, singkong hingga kacang hijau," kata dia.

Sebab tanaman lain seperti jagung dan singkong biaya tanamnya tidak begitu susah dan tata kelolanya lebih mudah, bahkan hasilnya lebih maksimal jadi petani beralih menanam komoditas selain kedelai.

"Upaya kami kembali mengembangkan tanaman kedelai lokal, karena adanya gagal panen dinegara yang melakukan impor seperti Brazil dan Amerika Serikat," kata dia.

Kusnardi mengatakan negara yang mengimpor kedelai seperti Brazil dan Amerika Serikat mengalami gagal panen, sehingga mempengaruhi harga kedelai lokal yang turut naik.

"Harapannya harga kedelai bisa Rp10 ribu per kilogram dan ini menjadi upaya petani untuk menanam kedelai. Dan kami juga doring agar para pengrajin seperti tempe dan tahu bisa gunakan tempe sebagai bahan baku utama pengolahan," kata dia.

Deni Zulniyadi








Berita Terkait



Komentar