#beritalampung#beritabandarlampung#ekbis#pertanian

Pemprov Lampung Cari Solusi Atasi Kekeringan Sawah 

( kata)
Pemprov Lampung Cari Solusi Atasi Kekeringan Sawah 
Sejumlah petani di Lampung Tengah meninjau kekeringan sawah yang terjadi di wilayah setempat. Lampost.co/


Bandar Lampung (Lampost.co): Pemerintah Provinsi Lampung melakukan koordinasi secara masif melakukan upaya mengatasi kekeringan yang melanda di daerah persawahan. Sejumlah sawah petani di daerah mengalami kekeringan akibat tak teraliri air dan hujan yang tak kunjung datang. 

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Kusnardi mengatakan jika saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait. 

"Salah satunya adalah Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA). Kita bahas terkait upaya melakukan pengadaan air dengan potensi yang ada di daerah yang mengalami kekeringan," kata Kusnardi saat dihubungi, Selasa, 17 Januari 2023. 

Menurutnya koordinasi dengan Balai Besar Mesuji - Way Sekampung juga dilakukan terkait dengan aliran air dari sejumlah bendungan yang ada di Provinsi Lampung. "Bendungan juga menjadi salah satu langkah pengadaan sumber air khususnya untuk mengaliri sawah petani," kata dia. 

Baca juga:  Kasus Pencurian Tiga Sapi Belum Dilaporkan ke Polisi

Dia mengatakan koordinasi untuk bisa memberi jatah air yang sesuai porsi petani merupakan langkah terbaik saat ini. "Kita juga lihat jatah airnya seperti apa. Butuhnya berapa jadi jelas dan terukur. Selain itu sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani juga perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman akan hemat air," kata dia. 

Ia mengatakan jika arahan dan sosialisasi terkait hemat air terus digalakkan dengan harapan petani harus bisa mengantisipasi hal kekeringan yang kapan saja bisa terjadi khususnya saat musim kemarau tiba. 

"Karena petani sebenarnya tidak perlu sawahnya harus tergenang air. Asal teraliri air sempurna tidak harus dipenuhi, jadi penyuluhan akan hemat air dilakukan dengan cara mengubah perilaku. Memang ini cukup sulit tapi harus dibiasakan," katanya. 

Pihaknya juga terus melakukan pemantauan jika ada daerah sawah yang kering serta dilakukan evaluasi apakah dengan kondisi tersebut masih tetap bisa produksi (gabah) atau tidak. "Yang menentukan penyuluh dan pastinya akan ada solusi untuk petani tidak rugi," jelas dia. 

Menurutnya kekeringan mulai kembali terjadi di awal 2023 ini. Sebab pada 2022, sepajang tahun terjadi fenomena alam La Nina yang mengakibatkan musim hujan tak kunjung selesai. 

"Kemarin di 2022 justru La Nina dan tidak terjadi kekeringan. Saat ini 2023 info dari BMKG cuaca normal jadi memang kita antisipasi juga dan koordinasi harus dilakukan. Awal tahun itu biasanya panen akhir Februari, Maret hingga Mei, kemarau yang tinggi itu biasanya nanti Juli," tutup dia.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar