#kerusuhan_Mesuji#Register-45

Pemprov Dorong Penyelesaian Konflik Mesuji Secara Sistematis

( kata)
Pemprov Dorong Penyelesaian Konflik Mesuji Secara Sistematis
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Fahrizal Darminto. (foto: Lampost.co/Triyadi Isworo)

Bander Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung prihatin terkait konflik antarwarga yang menduduki kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji. Pemprov mendorong hal  tersebut diselesaikan secara sistematis.

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Fahrizal Darminto menyampaihan hal itu, Rabu, 26 Desember 2019. Pihaknya bersama jajaran akan melakukan koordinasi bersama pihak-pihak terkait untuk mencarikan solusi dan jalan keluar terbaik untuk masyarakat.

"Kita menyesalkan adanya kejadian tersebut. Nanti akan kita tingkatkan koordinasi dengan teman-teman di lapangan agar cepat selesai," katanya di Kantor Gubernur Lampung. Ia juga mengatakan konflik di Mesuji merupakan persoalan yang berulang.

Menurutnya persoalan tersbut juga merupakan harus dilakukan secara bijak. Ia belum bisa berbicara banyak mengenai hal tersebut. Bahkan dirinya belum bisa memastikan apakah kementerian terkait akan turun meninjau dan menyelesaiakan persoalan tersebut.

"Ini kan persoalannnya akut, maka akan kita selesaiakan dengan cara sistematis. Kita sedang cari cara sistematisnya tersebut. Yang jelas ini semua tanggung jawab semua pihak," katanya.

 

 

Bentrok terjadi di wilayah Kelompok Karya Tani akibat ketidaksepahaman antara dua kelompok. Paling mutakhir terjadi, Selasa, 24 Desember 2019 yang mengakibatkan satu orang mengalami luka bacok di bagian wajah.

Peristiwa tersebut melibatkan lebih dari 250 orang. Massa mendatangi salah satu ketua kelompok di kediamannya di Register 45. Aksi ini diduga terkait klaim lahan dan penyetopan bajak secara sepihak dari salah satu kelompok.

Bentrok antarwarga karena perebutan lahan ini kembali terjadi di Register 45 Mesuji ini sudah kesekian kalinya terjadi. Sebelumnya, Register 45 Sungai Buaya, Mesuji, memanas.

Bentrok antardua kelompok terjadi pada Rabu, 17 Juli 2019 lalu. Bentrokan tersebut menimbulkan empat korban jiwa, puluhan luka-luka, dan banyak warga yang harus mengungsi.

Kemudian pada 2011 terjadi bentrokan yang menyebabkan seorang warga tewas dan peristiwa serupa kembali terjadi pada 2014 dengan satu nyawa melayang. Konflik kembali melanda tahun 2015, 2016, dan 2017 dengan tiga orang meregang nyawa.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar