#Refleksi#IskandarZulkarnain#VirusKorona

Pemimpin Bersujud        

( kata)
Pemimpin Bersujud        
Walikota Surabaya Tri Risma Harini -- MI/M Irfan

Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

PUBLIK bertanya-tanya, mengapa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang akrab disapa Risma bersujud dua kali saat audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur di Balai Kota Surabaya, awal pekan ini, Senin (29/6).

Ada apa ya? Kok lebay banget Ibu Risma. Begitu kalimat yang keluar dari kalangan milenial di sebuah kafe kopi kawasan Pahoman, sehari setelah drama yang dilakukan Wali Kota itu saat menyaksikan tayangan di televisi.

Diskusi terbatas dengan teman di kafe kopi, Bandar Lampung, membahas aksi Risma yang menjadi trending di media sosial. “Aku tidak sering pergi ke Kota Pahlawan. Pertama diminta menjadi penguji wartawan. Terakhir urusan launching platform digital Media Group,” kataku, Rabu (1/7) lalu.

Sebenarnya aku tidak begitu mengenal sosok seorang Risma. Tapi aku pun tahu tentang kepemimpinannya dari masyarakat Surabaya. Yang kutanyai antara lain, sopir taksi, penjual gorengan, pengendara ojol, polisi, kalangan pers. Apa kata mereka? Rismalah yang mengubah Surabaya seperti ini!

Setelah disiarkan berulang di televisi, ternyata Risma mendengarkan keluhan salah seorang dokter dari RSUD dr  Soetomo bahwa rumah sakit di kota ini banyak disesaki warga Surabaya yang tidak menaati protokol kesehatan. Kalimat itulah membuat Risma menjadi terpukul. Dia beranjak dari kursinya lalu bersujud di dekat kaki sang dokter.

Sambil tersedu Risma menjelaskan selama pandemi Covid-19, Gugus Tugas Kota Surabaya bekerja keras mati-matian untuk menangani pandemi global ini. Wali Kota mengaku tidak ingin ada warga Surabaya yang mati karena wabah, juga tidak ingin ada rakyatnya mati karena kelaparan.

“Apa dikira saya rela melihat warga saya mati karena Covid-19 atau mati karena tidak bisa makan? Pak, semalam saya dan Linmas pukul 03.00 WIB, masih ngurusi warga bukan Surabaya. Warga yang bukan Surabaya saja kami masih urusi, apalagi warga Kota Surabaya,” kata Risma melembut.

Aksi itu mendapat tanggapan serius dari Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono. “Apa yang dilakukan Risma sebagai peristiwa spontan sebagai permintaan maaf seorang pemimpin ketika ada rakyatnya belum taat protokol kesehatan, sehingga membuat tenaga medis di RSUD Dr Soetomo milik Pemprov Jatim itu menjadi kewalahan,” kata Adi menjelaskan.

Kejadian hari itu di Balai Kota merupakan sikap yang baik karena semua kesalahan yang warganya lakukan ini, Risma harus bertanggung jawab. Yang jelas, Wali Kota tidak ingin menyalahkan rakyatnya.

Dan Risma memikul kesalahan warga di pundaknya. Itulah pemimpin yang patut jadi teladan. Sikap itu pasti ditiru rakyat. Warga akan taat dengan titah pemimpinnya. Permintaan maaf Risma lewat aksi sujud itu sebagai bentuk tanggung jawab moral. Yang ada saat ini, pemimpin akan menindas rakyat dengan segala upaya. Seperti dana hasil pajak saja dikorupsi!

Dalam sepanjang sejarah kepemimpinan Risma, Surabaya menjadi apik dan teduh. Padahal kota terbilang berhawa panas seperti Jakarta. Dari tangan Rismalah, kota sekelas metropolitan banyak dihampari taman yang membuat kesejukan di mata pengunjung.

***

Masih soal Risma bersujud adalah bentuk permintaan maaf karena masih banyak warga Surabaya tidak mematuhi protokol kesehatan. Kemungkinan aksi spontan Risma itu dampak dari kunjungan Presiden Jokowi di Bumi Majapahit, Kamis (25/6). Kepala Negara risau dengan terus meningkatnya jumlah penderita Covid-19 di Jawa Timur terutama Surabaya Raya.

Dalam pertemuan virtual dengan gugus tugas provinsi, kabupaten, dan kota seluruh Jatim, Presiden mengultimatum pejabat di situ agar mengendalikan penyebaran virus corona dalam dua pekan. Seluruh unit organisasi harus berkoordinasi, bekerja bersama dengan manajemen yang terukur.

Sementara di Lampung patut berbangga. Lampung menempati peringkat pertama secara nasional dalam penanganan pandemi Covid-19. Angkanya skor 2,76 dengan enam wilayah berzona hijau, kuning delapan daerah, dan zona oranye Kota Bandar Lampung. Skor yang dipublikasi pada Senin (29/6) itu, menunjukkan risiko penyebaran virus di Lampung terendah.

Angka skor itu diperoleh dari persentase kesembuhan di Lampung yang mencapai 78,7%. Dari 188 pasien terkonfirmasi positif, terdapat 149 sembuh. Sedangkan meninggal dunia hanya 12 pasien per tanggal 29 Juni.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Lampung Arinal Djunaidi tidaklah membusungkan dada dengan keberhasilan itu. Malah dia khawatir jika pandemi corona di era new normal ini tidak dikawal dengan ketat, akan terjadi wabah jilid kedua. Gubernur sangat mewanti-wanti itu.

Dalam menyelesaikan masalah pandemi dikerjakannya secara  bersama-sama. Saling bertukar pikiran. Hasilnya lebih baik. Sebab, menurut Arinal, wabah yang sudah mendunia ini tidak bisa diselesaikan satu lembaga saja, gubernur contohnya. Tapi harus mengikutkan TNI/Polri, tokoh agama dan  masyarakat, akademisi juga kalangan pers dengan kompaknya dalam mengendalikan pencegahan Covid-19 di Bumi Ruwa Jurai.

Dengan kegigihan gugus tugas selama tiga bulan menghadang corona itu, ternyata membuahkan hasil. Tidak salah Wakil Presiden menganugerahi tiga penghargaan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19. Lampung meraih juara I sektor restoran; juara II sektor pasar modern/mal, dan juara III sektor pasar tradisional.

Lampung yang diapit dua provinsi berzona merah, yakni Sumatera Selatan dan Jakarta menempatkan kesehatan dan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama. Caranya? Memutus mata rantai virus, meningkatkan pelayanan medis, serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Memasuki era new normal enam bulan ke depan, Lampung juga provinsi lainnya mempersiapkan tatanan kehidupan baru. Yang diperlukan adalah inovasi. Ini menjadi kunci kesuksesan memasuki era produktif dan aman Covid-19 serta mampu mendorong pergerakan ekonomi.

Tentu, bangsa ini tidak ingin melihat Presiden Jokowi marah besar lagi kepada pembantunya dalam rapat kabinet. Hanya karena penanganan pandemi Covid-19 di berbagai sektor tidak maksimal, padahal uang puluhan triliunan rupiah sudah disiapkan untuk rakyat terpapar corona.

Indonesia membutuhkan pejabat juga pemimpin berkelas wahid. Bekerja luar biasa dalam menghadapi krisis karena Covid-19. Bukan pejabat mental tempe, berkelas biasa yang hanya bekerja biasa-biasa saja. Apalagi bekerja sesuai dengan argo. Pasti, corona tidak akan habis-habisnya di bumi pertiwi ini. ***

 

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar