#garam#izinsni#beritalampung

Pemilik Usaha Garam Mengaku tak Dapat Izin SNI  

( kata)
Pemilik Usaha Garam Mengaku tak Dapat Izin SNI  
Aryanto saat ditemui di kediamannya/gudang usahanya, Jumat (13/9/2018). (Foto:Lampost/Asrul)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pemilik Unit Dagang (UD) Tiga Permata yang memproduksi garam Cap Segitiga, Aryanto mengatakan pihaknya memang belum memiliki izin edar dari Balai Besar Pengawas Obat Makanan (BBPOM) Bandar Lampung.
Hal tersebut, dikarenakan mereka belum mengantungi izin SNI, yakni soal standarisasi pabrik atau usaha mereka.

Izin SNI tersebut, terkait standar tempat produksk, pengemasan hingga standar higienis. Contohnya pabrik harus memiliki plafon, lantai yang terbuat dari keramik, hingga hal lainnya, termasuk pengemasan. Izin tersebut didapat dari Balai Riset dan Standardisasi (baristand) Industri, Pemprov Lampung.

"Kami belum dapat Izin SNI, tapi kan kami sudah mengurusnya, dan lagi proses," ujar Aryanto saat ditemui di kediamannya, Jumat (13/9/2018).

Hal tersebut, menurut Aryanto, jadi kendala usahanya untuk mendapat izin edar dari BPOM. Ia menjelaskan kalau secara izin, usahanya lengkap yakni memiliki SIUP, dan TDP. Hanya memang izin SNI yang nantinya jadi salah satu syarat untuk mendapatkan izin edar.
"Jadi kami sebenarnya dari 2012 ngurus SNI, tapi ditolak, makanya arahan BPOM kami Ikuti," katanya.

Aryanto berdalih dengan pernyataan dari aparat dan media, soal garamnya yang berbaahya jika dikonsumsi, sangat merugikan udahannya yang sudah lama ia rintis, karena mereka sendiri telah berkoordinasi dengan BBPOM Bandar Lampung. "Ini, saya punya kok dari Uji Lab BBPOM garam kita bagus," katanya.

Bahkan, menurut Aryanto, pihaknya telah melakukan penyetopan produksi sejak awal Agustus 2018. Namun ia cukup bimbang, ketika Polisi mendatangi gudangnya pada 31 Agustus 2018.

Awal Agustus, kami sudah tidak beroperasi, karena kami didatangi oleh Balai Besar Pengawasan Obat Makanan (BBPOM), dan diminta tidak beroperasi selama izin belum turun, tapi kami malah didatangi Polda" ungkapnya.

Asrul Septian Malik



Berita Terkait



Komentar