pembunuhan

Pembunuh Kakek Dituntut 9 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Siapkan Pledoi

( kata)
Pembunuh Kakek Dituntut 9 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Siapkan Pledoi
Kuasa Hukum terdakwa, Yogi Saputera.


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kuasa hukum terdakwa kasus pembunuhan Dedi M (42), warga Sinar Banten, Sumberejo, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, menyiapkan pledoi menjelang sidang vonis yang akan berlangsung besok, 26 November 2020.

Sebelumnya ia didakwa dengan pasal Pasal 338 KUHP, subsider perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP, serta perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 Ayat (3) KUHP, karena membunuh tetangganya Poniran (70) pada Minggu, 3 Mei 2020.

Kuasa hukum terdakwa Yogi Saputera mengatakan, pada persidangan tuntutan di PN Tanjungkarang, 19 November 2020 yang lalu, Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terkdawa 9 tahun penjara.

"Jadi sidang tuntutan kemarin pasal 340 tidak terbukti, hanya 338 nya saja, dan dituntut 9 tahun penjara," ujar Yogi di PN Tanjungkarang, Rabu 25 November 2020.

Pihaknya telah menyiapkan pledoi yang akan dibacakan secara langsung pada sidang selanjutnya pada 26 November 2020, sebelum vonis dijatuhkan.

Poin-poin yang diharapkan dapat meringankan vonis nantinya pada saat pembacaan pledoi tersebut, yakni terdakwa belum pernah dipidana, terdakwa tulang punggung keluarga.

Selain itu, terdakwa punya track record gangguan jiwa remaja berdasarkan keterangan keluarga di persidangan. sehingga kejiwaan pelaku terkadang tak stabil.

"Selain itu, rupanya terdakwa pernah berobat (alternatif), dengan korban," katanya.

Sebelumnya, dalam dakwaan Jaksa yang dibacakan Tribuana Madasari disebutkan, pada Minggu, 3 Mei 2020, sekitar jam 10.00 WIB, terdakwa cekcok mulut dengan saksi Wagini yang merupakan istrinya, kemudian terdakwa pergi meninggalkan rumah untuk memenangkan diri.

"Pukul 17.00 WIB terdakwa kembali ke rumah dan kembali cekcok. Terdakwa memukul Wagini hingga menangis dan pergi ke rumah saksi Sumarni," katanya.

Setengah jam kemudian, terdakwa berniat menyusul istrinya (Wagini) untuk mengajaknya pulang ke rumah. Namun, terdakwa mengambil sebilah senjata tajam jenis pisau garpu sepanjang ± 10 cm bergagang tulang sapi yang diselipkan di pinggang kiri.

"Terdakwa pergi kerumah saksi Sumarni dan mengajak saksi Wagini pulang namun istrinya yang sedang menangis dan ditenangkan saksi Sumarni menolak untuk pulang karena takut dipukul terdakwa," ujarnya.

Lalu terdakwa meninggalkan saksi Wagini dan pada saat dia melihat Poniran yang berada di depan rumah. Terdakwa yang sedang emosi, marah karena merasa Poniran melihat dengan melotot ke arahnya. Terdakwa pun menghampiri korban dan langsung mengeluarkan senjata tajam jenis pisau garpu.

"Terdakwa langsung menyerang Poniran secara membabi buta sehingga korban jatuh tersungkur, lalu terdakwa pergi meninggalkannya," kata Jaksa.

Berdasarkan visum et repertum Nomor: R/VER/15/KES.22/V/2020/RSB tanggal 26 Mei 2020 dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan dua luka terbuka pada sisi kiri, dua buah luka terbuka pada punggung sisi kiri, dan satu buah luka terbuka pada lengan kiri sisi depan akibat kekerasan tajam, yang berdasarkan ciri lukanya sesuai dengan luka tusuk, luka tusuk di dada (luka nomor empat belas “b”) tersebut menembus rongga dada.

Winarko







Berita Terkait



Komentar