#limbah#nuklir

Pembuangan Limbah Nuklir ke Laut Dinilai Merusak Ekosistem

( kata)
Pembuangan Limbah Nuklir ke Laut Dinilai Merusak Ekosistem
Massa dari Indonesia Antinuklir Fukushima (IANFU) melakukan aksi di depan Kantor Kedutaan Besar Jepang, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Juni 2021. ANTARA/ Mentari Dwi Gayati


Jakarta (Lampost.co) -- Aktivis Indonesia Antinuklir Fukushima (IANFU) menggelar aksi peringatan Hari Laut Sedunia dengan tuntutan meminta Pemerintah Jepang tidak membuang limbah pendingin reaktor nuklir ke Laut Pasifik.

Massa dari IANFU juga menggelar teatrikal di Kedutaan Besar Jepang Jalan MH. Thamrin dan depan Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat.

"Kami dari Indonesia Antinuklir Fukushima menggelar aksi kepada Pemerintah Jepang terkait adanya pembuangan limbah, karena pembuangan limbah ke laut tersebut akan merusak ekosistem di Laut Pasifik," kata Koordinator Lapangan aksi IANFU, Zaki, Selasa, 8 Juni 2021.

Zaki menjelaskan pembuangan limbah berbahaya tersebut pernah terjadi di Jepang dalam kasus Minimata, Kumamoto. Akibatnya anak-anak terlahir cacat dan kematian warga akibat terpapar limbah logam berat merkuri di perairan Jepang pada 1956.

Tercatat sebanyak 2.000 orang dari total 10 ribu korban mendapatkan ganti rugi akibat kasus pencemaran laut di Minimata.

Untuk itu, rencana pembuangan limbah pendingin reaktor nuklir Fukushima ke Luat Pasifik harus dihentikan. Sebab, akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia dan ekosistem laut Pasifik, termasuk keanekaragaman hayati.

Zaki mengharapkan Pemerintah Indonesia sebagai negeri maritim harus mengambil sikap dengan melayangkan keberatan serta penolakan terhadap rencana Pemerintah Jepang.

"Negara kita ini negara maritim yang lautnya sangat luas sekali. Jarak dari Jepang ke Indonesia memang jauh, tapi limbah yang dibuang ke laut akan berdampak pada mata pencaharian nelayan Indonesia," ujar Zaki.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar