#pembangunantugu#beritatubaba#rth

Pembangunan Tugu Kenetik Panaragan Diprotes Tokoh Adat

( kata)
Pembangunan Tugu Kenetik Panaragan Diprotes Tokoh Adat
Desain tugu simpang tiga Panaragan. Foto: Dok

Panaragan (Lampost.co): Pembangunan Tugu Kinetik Scultur Ayam Hutan (Brugo) di simpang tiga Panaragan, Tulangbawang Barat (Tubaba) mendapat koreksi tokoh masyarakat. Masyarakat meminta pembangunan dikaitkan dengan budaya lokal.

"Ya. Sejumlah tokoh masyarakat Panaragan meminta pembangunan tugu itu ditinjau ulang agar dikaitkan dengan nilai-nilai sejarah dan budaya di Panaragan," ujar Camat Tulangbawang Tengah, Nazaruddin, kepada Lampost.co, Rabu, 22 Juli  2020.

Meskipun demikian, lanjutnya, masyarakat tetap mendukung pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) yang menjadi fokus kegiatan dalam penataan kawasan simpang tiga Panaragan tersebut.

"Tokoh menyampaikan aspirasi agar pembangunan tugunya saja yang lebih menyentuh budaya lokal. Untuk penataan RTH tetap dilanjutkan," ujarnya.

Terkait dengan aspirasi tersebut telah ditampung pemkab untuk dilaksanakan pada kegiatan pembangunan kedepan. "Tim dinas PUPR sudah menampung semua keinginan tokoh masyarakat dan saya juga sudah menyampaikan jawaban dari pemkab terkait masalah tersebut kepada para tokoh," kata Nazar.

Menanggapi hal tersebut, Kadis PUPR setempat, Iwan Musalin melalui Kabid Ciptakarya, Ritmi juga membenarkan adanya koreksi dari para tokoh terkait pembangunan Tugu Kinetik Scultur senilai Rp2,2 miliar yang didanai dari APBD 2020 tersebut.

 "Semua yang menjadi keinginan tokoh masyarakat sudah kami tampung. Kegiatan tetap berjalan dan fokus pembangunan RTH dan penataan jalan," ujarnya.

Terkait dengan tiga tiang batu yang menjadi seni kenetik yang sebelumnya direncanakan kemungkinan akan ditunda. Sebab, lanjutnya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tambahan karena merupakan CSR dari salah satu perusahan yang diluar kegiatan kontrak dengan pihak rekanan.

"Artinya, fokus pembangunannya hanya RTH dan penataan jalan simpang tiga. Untuk tugu akan direncanakan kembali kedepan sesuai keinginan masyarakat," katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari salah satu tokoh masyarakat Panaragan, Khori Runjungan dan sejumlah tokoh adat lainnya mengoreksi pembangunan tugu di simpang Panaragan. Para tokoh meminta bupati meninjau ulang khusus untuk pembangunan tugu karena tidak ada kaitan dengan budaya lokal. 

"Saya meminta pembangunan ditinjau ulang, karena tugu kenetik ayam hutan (brugo) tidak memiliki makna filosofi tentang sejarah dan budaya Panaragan," kata Khoiri dalam surat terbukanya kepada bupati dan sejumlah lembaga.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar