#KeretaApi
Kereta Api

Pembangunan Shortcut Tegineneng-Tarahan Diminta Perhatikan Warga Sekitar

( kata)
Pembangunan Shortcut Tegineneng-Tarahan Diminta Perhatikan Warga Sekitar
Ilustrasi. (Google Images)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung akan membangun shortcut jalur kereta api. Rencana tersebut untuk mengurangi kemacetan di Bandar Lampung.

Terkait hal itu, pengamat transportasi Sasana Putra mengatakan, pembangunan infrastruktur baru itu harus memperhatikan pertumbuhan masyarakat sekitar rel. Hal itu untuk mencegah muncul masalah serupa seperti di Bandar Lampung.

Baca juga:Pembangunan Shortcut Tegineneng—Bakauheni Dimulai 2021

"Jangan sampai setelah dibangun muncul pertumbuhan baru di sekitar jalur dan menimbulkan masalah seperti di Bandar Lampung," kata dia kepada lampost.co, Senin11 November 2019.

Dosen Fakultas Teknik Unila itu juga menyampaikan, pembangunan juga sudah harus ada pengarahan jalan. Hal itu agar tidak muncul pelintasan sebidang.

"Artinya hirarki jalan juga harus berfungsi, tidak ada pelintasan sebidang dan tidak mengakses langsung ke jalan raya," tuturnya.

Ia juga menyarankan agar tak membiarkan jalur lama. Menurutnya jalur yang lama bisa dimanfaatkan untuk membangun transportasi massal lain.

"Bekas relnya jangan ditelantarkan, kalau bisa digunakan untuk MRT atau commuter line," tambahnya.

Menurutnya, hal itu bisa mengurangi pergerakan transportasi dr luar daerah. Pemerintah cukup membangun kantong parkir di area tegineneng atau bandara. Dengan begitu kendaraan yang masuk ke Bandar Lampung pun berkurang. Hal itu menurutnya lebih efektif mengurangi kemacetan.

"Jadi, orang dari arah sana (Tegineneng) ke Bandar Lampung tak perlu bawa kendaraan, parkir aja di sana lalu naik commuter line," ujarnya.

Program utama pengembangan jaringan jalur dan jaringan layanan perkeretaapian shortcut Tegineneng-Tarahan akan dimulai pada Maret 2020 mendatang. Sedangkan lelang pengerjaan proyek tersebut akan dibuka pada awal 2020. Pembangunan tersebut diperkirakan habiskan anggaran Rp80 miliar.

Winarko



Berita Terkait



Komentar