#pembangunan#proyek#rsudpringsewu

Pembangunan Gedung Farmasi RSUD Pringsewu Dinilai Banyak Kejanggalan

( kata)
Pembangunan Gedung Farmasi RSUD Pringsewu Dinilai Banyak Kejanggalan
Sidak pembangunan gedung farmasi RSUD Pringsewu. Lampost.co/Widodo

Pringsewu (Lampost.co): Komisi III DPRD Kabupaten Pringsewu, Rabu, 26 Agustus 2020, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Rumah Sakit Umum (RSUD) Pringsewu terkait dengan pembangunan gedung farmasi yang dinilai banyak kejanggalan. Sidak dihadiri Wakil Ketua Komisi III Johan Arifin, Sekretariat Komisi III Aris Wahyudi, anggota Komisi III Bambang dan Sudiyono.

Sekretaris Komis III Aris Wahyudi menyatakan ada beberapa yang dinilai janggal dari bangunan gedung farmasi: galian pondasi cakar ayam yang seharusnya memiliki kedalaman 1,5 meter tetapi hanya di gali 1 meter dengan alasan karena membentur cadas sehingga tidak bisa di gali lagi.

"Sisanya akan di alihkan ke bagian lain," kata Aris Wahyudi.

Dia menyatakan konsultan memang sudah mengakui adanya kekurangan galian dan sisa galian akan di alihkan pada bagian lain.

Kemudian proyek gedung farmasi juga tidak di lengkapi dengan papan nama sehingga terkesan tidak ada keterbukaan informasi untuk publik.

"Saya harapkan kepada pelaksana untuk memasang gambar bestek dan progres, agar masyarakat mengetahuinya," kata dia.

Selain melakukan sidak bangunan gedung farmasi, Komisi III juga melihat kondisi bangunan RSUD bagian selasar yang di bangun 2019 terkesan asal-asalan. Komisi III menilai bangunan tahun 2019 sangat buruk dan terlihat tidak ada pemadatan sehingga terlihat bergelombang.

Menurutnya dari sidak ini, pihaknya akan menyampaikan ke konsultan perencanaan, baik soal gedung farmasi ataupun selasar RSUD.  

Aris menekankan seharusnya rumah sakit yang digunakan berobat harus bisa memberikan kenyamanan pada pasien dan pengunjung. Akan tetapi, dalam kenyataannya, fasilitas bangunan yang ada di RSUD Pringsewu sangat justru memprihatikan.

"Kenyamanan bisa dilihat dari bentuk bangunan yang representatif serta didukung dengan kebersihan, keindahan lingkungan," ungkapnya.

Anggota Komisi III lain Sudiyono menambahkan, untuk besi di nilai sesuai standar tetapi volume galian kurang karena lokasi tidak bisa digali lagi lantaran tanah campur cadas. "Saya berharap direktur yang mengerjakan proyek bangunan segera turun ke lapangan agar bisa melihat pekerjaannya," ungkap Sudiyono.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar