lampung#pesisirbarat#embung

Pembangunan Embung dari APBN di Pesisir Barat Mubazir

( kata)
Pembangunan Embung dari APBN di Pesisir Barat Mubazir
Kondisi embung di Atar Likok, Pekon Balai Kencana, Krui Selatan, Pesisir Barat, yang dibangun menggunakan APBN. Lampost.co/Yon Fisoma

Krui (Lampost.co) -- Pembangunan embung menyerupai bendungan sebagai sumber irigasi sawah di Atar Likok, Pekon Balai Kencana, Kecamatan Krui Selatan, Pesisir Barat, ditengarai hanya menghambur-hamburkan uang negara. Pasalnya, sejak dibangun sekitar 2017 hingga saat ini tidak memiliki manfaat sama sekali untuk mengairi sawah masyarakat setempat.

Amir, salah seorang warga yang tinggal di dekat bangunan embung tersebut, mengatakan sejak dibangun sekitar dua tahun lalu tidak memiliki fungsi sama sekali sesuai tujuan untuk mengairi sawah masyarakat.

"Ya sejak selesai dibangun enggak ada fungsinya sampai sekarang juga seperti itu. Sawah warga di sini sumber airnya dari siring yang berada di sebelahnya," kata Amir, Kamis, 21 November 2019.

Hal itu dibenarkan Peratin (Kepala Desa) Pekon Balaikencana, Hazirin. Dia mengatakan selama ini embung tersebut tidak ada manfaat sebagai sumber air sawah warga di tempat itu.

Pihaknya juga tidak mengetahui persis apakah pembangunan embung itu dari APBD atau APBN karena dari informasi yang beredar pembangunan embung tersebut berasal dari dana pusat atau dari kementerian. Kontraktor pelaksananya juga berasal dari luar Pesisir Barat.

"Rumah saya kan juga enggak jauh jaraknya dari lokasi embung itu. Sejak selesai dibangun memang tidak ada manfaatnya untuk mengairi sawah. Pembangunannya sekitar satu atau dua tahun lalu," katanya di balai pekon setempat.

Pantauan Lampost.co, di lokasi embung tersebut, meskipun dalam beberapa hari lalu Pesisir Barat diguyur hujan cukup, debit air di embung tersebut sedikit. Debit air tidak bisa mencapai dinding embung apalagi saluran air yang dibuat tampak kering dan dasar tanahnya juga terlihat, tidak ada air yang mengalir ke sawah.

Terlihat seorang warga menjala ikan di tengah genangan air yang menyerupai rawa tersebut.

Bahkan diperkirakan kalaupun terus hujan lebat dan embung terisi penuh, air tidak diperlukan lagi sawah karena otomatis lahan pertanian sudah memiliki persedian air yang cukup.

Pemandangan ini menjadi memprihatinkan saat pemerintah gencar membangun fasilitas infrastruktur pertanian agar hasil panen dan intensitas tanam padi petani meningkat.

Dari informasi yang dihimpun, proyek pembangunan embung tersebut berasal dari Kementerian PMD tahun anggaran 2017 dengan nilai proyek sekitar Rp1 miliar. Namun, proyek itu dinilai hanya menghamburkan uang negara karena tidak memiliki manfaat. Pihak terkait tentunya harus melakukan investigasi di lapangan untuk mengecek proyek tersebut.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar