#tumbai#orangabung#balasdendam

Pembalasan Dendam terhadap Orang Abung

( kata)
Pembalasan Dendam terhadap Orang Abung
(Foto:Dok.Lampost.co)

PENYERANGAN oleh para pemburu dari suku Abung dari pegunungan terhadap orang Paminggir di dataran rendah Semaka terjadi sekitar tahun 1970. Perburuan tidak membutuhkan waktu lebih dari satu bulan yang kemudian ditemukannya beberapa badan tanpa kepala milik para petani padi.

Orang Abung membunuh orang-orang Semaka jika mereka pergi menuju wilayah hutan dataran rendah untuk mengumpulkan kayu. Mereka menyerang para petani di ladang padi mereka yang berlokasi di sekitar permukiman. Orang-orang itu menjelajah hanya dalam kelompok yang bersenjata keluar dari perlindungan desa.

Di sini tampaknya Nakoda Muda mengambil inisiatif. Ia melakukan sumpah balas dendam terhadap orang Abung dan berjuang menghancurkan mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia berunding dengan Kiria Mintjan, orang yang diberi kuasa oleh Sultan Bantam di Semaka.

Pertama-tama, dilakukan rembuk perang dengan utusan dari keempat suku di Semaka. Telah diceritakan mengenai empat pangeran dari Semaka yang memiliki kekuasaan di Bemawang, Bibulungu, Padang Rata, dan Sumawang. Dari tempat-tempat tersebut, hanya masih tersisa wilayah Padangratu di daerah dataran rendah bawah sekitar 7 km dari pesisir.

Nama Bemawang hanya dapat dikenal dengan Benawang, yaitu kampung besar yang lenyap ditelan bumi pada 1883 di malam hari ketika Gunung Krakatau meletus. Benawang terletak tepat di pesisir dan di mulut Way Semaka, kini tempat tersebut berfungsi sebagai rawa.

Nama Bibulungu tampaknya terjadi karena kesalahpahaman. Salah satu dari keempat suku Paminggir di Semaka bernawa Buwei Belungu. Wilayah utama Belungnu adalah Kampung Kagungan yang terletak di sudut timur laut teluk, tepatnya di kaki gunung Tanggamus. Ketiga daerah itu merupakan kampung utama dari suku-suku tersebut.

Sebagai suku keempat, hanya masih tertinggal suku Sukan (di dataran tinggi Kenali) yang wilayah utamanya kini berada di Ulubelu, sebuah kampung yang terletak di tepi utara gunung dataran Semaka, lereng utama Gunungn Kukusan. Pangeran-pangeran disebutkan adalah pemimpin adat dari keempat suku Semaka yang seluruhnya memiliki 78 desa.

Pada perkumpulan para pemimpin adat, orang Bantam bernama Kiria Mintjan menyampaikan pidato. "Alasan mengapa saya dan Nakoda Muda memanggil kalian di sini adalah kepentingan mendesak untuk menyerahkan orang Abung guna membebaskan penduduk wilayah ini dari penyerangan agar mereka dapat kembali bekerja di ladang padi dan kebun lada mereka tanpa adanya gangguan. Namun, hingga kini mereka belum dapat melakukannya tanpa mengatasi ancaman sepenuhnya. Mereka tidak diperbolehkan lagi terlihat sendiri di ladang. Tidak ada pilihan lain untuk mengatasi kecemasan ini kecuali membumihanguskan orang Abung!"

Pada musyawarah pada pemimpin adat tersebut kemudian diputuskan bahwa titah melawan orang Abung tersebut harus dilaksanakan. Nakoda Muda juga meminta untuk menyediakan tombak untuk penduduk desa sebagai senjata standar. Sayangnya tidak diceritakan upah apa yang diterima oleh Nakoda Muda ini.

Peperangan dimulai. Kiria Mintjan, utusan dari Bantam, tidak bergabung dalam perjalanan ke Suku Abung. Begitu pula semua pangeran, mereka tetap di rumah. Sebanyak 400 pasukan bersenjata membawa 80 senjata, menuju timur laut melewati Gisting di dataran Way Mintjang dan Way Ilahan. Mereka tiba di wilayah Abung setelah perjalanan tiga hari.

Nakoda Muda meninggalkan pasukan kecilnya dan melanjutkan dengan 80 pasukan bersenjata menuju kampung Abung Mindjang. Kemudian kampung diserang dan dibumihanguskan. Namun, para penduduknya melarikan diri dari kampung pada waktu yang tepat. Hari-hari berikutnya, 11 desa di Abung diserang, dijarah, dan dibakar. Para pemburu kepala sendiri melarikan diri. Seluruh peperangan ini hanya memakan empat korban meninggal dari orang Abung.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke

Berita Terkait

Komentar