#Nuansa#Hari#Guru

Pelita dalam Kegelapan

( kata)
Pelita dalam Kegelapan
Ilustrasi Guru. (Dok.Lampost.co)

LANGKAH kaki kecil terasa sangat riang dan bersemangat saat memasuki TK Cendrawasih, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, medio Juli 1990. Bagaimana tidak, saat itu untuk pertama kalinya saya bersekolah.

Ibu Ning—sapaan Ibu Suningsih—yakni guru kelas saya saat itu, menyapaku lebih dulu sebelum masuk kelas. Masih malu-malu saat itu. Saya berlindung di belakang tubuh Mami (ibu kandungku) saat berjalan masuk ke dalam kelas.

Menurut Mami, walaupun awalnya saya terlihat malu, sehari berikutnya saya sudah mulai menyukai suasana sekolah. Bahkan, terlihat akrab dengan Ibu Ning, sehingga Mami bisa meninggalkan saya bersekolah. Sebab, Mami juga harus kembali melaksanakan tugasnya sebagai guru di sebuah SMP swasta saat itu.

Pada taman kanak-kanak, saya mulai belajar bersosialisasi dengan banyak teman. Belajar huruf, angka, menulis, maupun menghafal doa, hingga akhirnya Ibu Ning menuliskan “Tingkatkan prestasimu di SD” di kartu laporan pribadi pada 8 Juni 1990. Itu artinya, saya meninggalkan sekolah itu. Kemudian bertemu dengan guru dan teman-teman baru di sekolah dasar.

Entah sudah berapa banyak guru yang saya temui hingga usia 33 tahun ini. Tidak hanya pada lembaga formal, orang sekitar yang membagi pengalaman berharganya juga menjadi guru dalam kehidupan saya.

Sebab, seperti diketahui, guru memiliki banyak sinonim yakni dosen, instruktur, kiai, mentor, mualim, pamong, pelatih, pembimbing, pemelihara, pendidik, pengajar, pengasuh, tutor, ustaz, ustazah, widyaiswara, penasihat, dan suhu.

Peran guru dalam mendidik anak bangsa tidak terbantahkan. Semangat dan kesabarannya menjadikan anak-anak cerdas dan beriman patut diapresiasi.

Tidak berlebihan jika guru disebut sebagai pelita dalam kegelapan. Seperti lirik lagu Hymne Guru yang diciptakan Sartono pada 1980-an. 

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku / Sebagai prasasti terima kasihku / Tuk pengabdianmu / Engkau sebagai pelita dalam kegelapan / Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan / Engkau patriot pahlawan bangsa / Tanpa tanda jasa

Kini setiap 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Selain ditetapkan menjadi Hari Guru Nasional, pada tanggal yang sama juga dijadikan sebagai hari lahir organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pemerintah menjadikan momen tersebut sebagai penghargaan atas jasa guru yang telah ikut mencerdaskan anak bangsa.

Di Indonesia, Hari Guru Nasional, bukan hari libur resmi. Perayaan juga dikemas sesuai inisiatif masing-masing sekolah. Selain juga digelar upacara peringatan dan pemberian tanda jasa bagi guru.

Apa pun bentuk perayaannya, yang jelas semua tentu sepakat mengucapkan terima kasih kepada guru. Terima kasih karena sudah tekun dan sabar mendistribusikan ilmunya untuk anak Indonesia. Selamat Hari Guru!

 

 

Vera Aglisa/Wartawan Lampung Post



Berita Terkait



Komentar