sapiekonomi

Pelihara Sapi Untuk Tabungan Masa Depan Petani

( kata)
Pelihara Sapi Untuk Tabungan Masa Depan Petani
Ternak sapi gaduh untuk tabungan masa depan petani. Lampost.co /Perdhana


Kalianda (Lampost.co) -- Setiap pagi, usai memberikan makan kelima ekor sapi miliknya, ia langsung bergegas mengendarai sepeda motor bututnya memburu rumput. Sejak sepuluh tahun terakhir, aktivitas kesehariannya pagi dan petang memburu rumput hingga kadang keluar dari daerah tempat tinggalnya. 

Kesibukannya akan meningkat tajam di waktu musim tanam rendeng dan gaduh, karena harus membagi waktu ke sawah dan mencari rumput.  Setelah tiba di kediamannya, langsung menuju ke kandang yang terletak di belakang rumah meletakkan dua karung rumput untuk pakan kelima ekor sapi peliharaannya.

Dalam sehari, sedikitnya empat karung rumput habis dilahap kelima ekor sapinya yang terlihat sehat dan gemuk.  "Dari lima ekor ini, cuma seekor punya saya," kata Sugimin (54) warga Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Minggu, 28 Juni 2020. 

Keempat ekor sapi dewasa yang terdiri dari dua betina dan dua jantan merupakan milik orang lain yang dipercayakan kepadanya untuk di pelihara.  "Empat ekor sapi yang besar ini digaduh punya orang," katanya. 

Sistem pembagian hasil dari sapi betina yang gaduh itu, apabila melahirkan anak pertama menjadi milik yang punya. "Anak kedua nanti baru milik saya dan seterusnya seperti itu,"ujarnya. 

Sedangkan untuk bagi hasil  sapi jantan apabila nanti laku dijual, maka keuntungan dibagi dua dengan pemiliknya. "Misalnya modal beli Rp10 juta, saya pelihara dan dijual laku Rp15 juta, maka yang Rp5 juta dibagi dua," kata dia. 

Memelihara sapi, menurut filosofi para petani di kampung merupakan untuk tabungan masa depan, salah satunya membiayai kebutuhan dadakan. "Ini sama saja buat tabungan, kalau ada kebutuhan dadakan bisa di jual cepat," katanya. 

Mendekati hari raya Iduladha, para petani yang memelihara sapi meningkatkan kewaspadaannya, karena khawatir hilang dicuri atau sakit. "Sebenarnya hari biasa tetap waspada, tapi kalau sekarang lebih waspada, karena harga sapi lagi mahal mahalnya," kata dia. 

Hampir setiap malam, ia tidur dini hari, karena memeriksa kandang sekaligus memberi makan sapi serta menyalakan tungku untuk penghangat serta mengusir nyamuk.  "Setiap malam, hampir dipastikan begadang," kata dia. 

Sementara itu, Salman (59) salah seorang petani di Desa Sukamaju, kecamatan setempat mengaku trauma memelihara sapi. Pasalnya, ia pernah alami kehilangan sapi betina dalam keadaan bunting tua.  "Saya sudah tidak mau lagi pelihara sapi lagi," ujarnya. 

Padahal pada waktu kehilangan sapi beberapa tahun sialam, ia bersama warga yang lain sedang ronda malam tidak jauh dari kediamannya.  "Malam itu jadwal saya ronda, pas pulang subuh sapi saya hilang," kata dia. 

Ia bersama warga lainnya berusaha mencari, dan usaha itu berhasil. Hanya saja yang ditinggal komplotan pencuri jeroan sapi sekitar 1 Km dari kediamannya.  "Saya yakin ini milik saya karena selain jeroan ada anak sapinya yang sudah tewas," kata dia. 

Sesuai dengan perjanjian gaduh sapi, anak yang lahir pertama menjadi milik yang punya, sedangkan ia harus menunggu kelahiran anak kedua.  "Padahal yang punya ikhlas karena hilang, bahkan ia menawarkan gaduh kembali, tapi saya tolak, karena malu," ujarnya. 

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar