#musiktradisional#beritalampura#kesenian

Pelestarian Budaya Seni Kerawitan di Lampura

( kata)
Pelestarian Budaya Seni Kerawitan di Lampura
Kegiatan Sanggar Kerawitan dan Seni Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co): Dentingan alat musik gamelan yang dimainkan seniman kerawitan mengalun mengikuti suara pesinden yang menyanyikan tembang tradisional Jawa.

Suasana latihan kerawitan yang digelar di pelataran kediaman Ketua Sanggar Kerawitan dan Seni Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Mardi Wiromo, itu terselip asa dari setiap anggotanya tentang mimpi perhelatan yang akan membawa seni kerawitan ini kembali di puncak kejayaannya.  

Mardi mengatakan memainkan gamelan berbeda dengan memainkan alat musik kontemprorer. Pada musik tradisional kerawitan, nada dari gamelan yang dimainkan pekerja seni, mengikuti alunan lagu dari sinden. Sedangkan musim kontemporer, penyanyilah yang mengikuti nada yang dimainkan pemusik.

"Kalau memainkan gamelan, ketemu pesinden yang belum memahami tangga nada dari musik tradisi yang dinyanyikan, tentu nadanya akan bubar, karena pemain akan berupa melaraskan nada di pesinden. Kalau musik kontemporer penyanyinya yang mesti menyelaraskan nada," ujarnya, Sabtu, 18 Januari 2020.

Kejayaan seni kerawitan terjadi di era 90-an, namun seiring perjalanan waktu sekitar tahun 2000, seni tradisi itu terus mengalami kemunduran karena tersisih dengan musik kontemporer yang dinilai kalangan tertentu lebih modern. 

"Pada masa kejayaannya, hampir setiap malam sanggar kerawitan di panggil untuk pentas, tapi sekarang, setahun belum tentu sekali," kata dia. 

Menurutnya kondisi itulah yang menyebabkan anggota kerawitan terus berkurang setiap tahunnya dengan berbagai alasan bahkan. Kemudian beberapa sanggar sudah tidak lagi menjalankan aktivitas berkesenian. Kondisi tersebut juga terjadi di Sanggar Kerawitan dan Seni, Mardi Wiromo, dari sebelumnya ada sekitar 70 anggota kerawitan, sekarang tersisa hanya 35 anggota sanggar yang masih menjalankan aktivitas berkesenian. 

"Semua anggota sanggar Kerawitan dan Seni, Mardi Wiromo, sudah pada sepuh dan anggota termuda dalam kelompok kerawitan yang masih aktif berusia 47 tahun dan itu adalah saya sendiri," kata Liono, salah satu anggota Karawitan setempat.

Dia menyadari seni kerawitan tidak akan bertahan lama tanpa adanya regenerasi. Karenanya, dia mempersilahkan generasi muda untuk belajar kerawitan di sanggarnya.

"Saya selalu membuka kesempatan bagi semua orang, khususnya generasi muda belajar musik kerawitan di tempat ini, tanpa beban biaya apapun hanya saja, sampai hari ini belum ada generasi muda yang berminat menimba ilmu tentang seni kerawitan disini," katanya.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar