#tempe#kedelai

Pengusaha Tempe dan Tahu di Natar Menjerit

( kata)
Pengusaha Tempe dan Tahu di Natar Menjerit
Pelaku usaha tahu dan tempe menjerit karena harga kedelai terus melonjak. Lampost.co/Febi Herumanika


Kalianda (Lampost.co) -- Mahalnya harga kedelai di pasaran membuat pelaku usaha tahu dan tempe skala rumahan di Desa Haduyang, Kecamatan Natar, Lampung Selatan menjerit. Meski demikian, mereka tetap bertahan demi perekonomian dan tetap berjalan setiap harinya.

Pelaku usaha tahu dan tempe, Mirahati, mengatakan bahan pokok pembuatan tahu atau tempe terus melonjak. Sementara produksi tetap berjalan untuk menunjang ekonomi sehari-hari di desa.

"Sampai hari ini harganya mencapai Rp10 ribu, turun pun paling Rp100. Kami mohon kepada pemerintah carikan solusi ini, " ungkap Mira di rumahnya, Rabu, 15 September 2021.

Baca juga: Harga Kedelai Terus Melambung, Pengusaha Tempe Kian Menjerit

Menurutnya, usaha yang dia jalankan membutuhkan bahan baku sekitar 300 kg setiap hari. Jumlah itu pun ada penurunan dari sebelumnya 400 kg. Sebab harga bahan pokok cenderung naik setiap harinya.

" Yang membuat tahu dan tempe ada 11 tenaga kerja, belum lagi ada 23 orang penjual keliling. Bisa diartikan ada angka pengangguran dari usaha yang dia jalankan, mestinya pemerintah peduli itu harapan saya, " katanya.

Mirahati menjelaskan hampir setiap hari ia produksi bahan baku pembuatan tahu dan tempe yang tidak pernah turun. Hal itu dikurangi ukuran tahu dan tempe dari sebelumnya.

Baca juga: Produk Tempe Lampung Diharap Mendunia

Suwarno, Pedagang keliling tahu dan tempe mengaku ada penurunan daya beli masyarakat dari sebelumnya. " Ya sebelum pandemi misalnya laku 100 potong. Nah, sekarang hanya 50 potong, kalau laku tetap laku tetapi berkurang,” ujarnya.

Suwarno berharap perekonomian terutama di desa segera pulih. Pemerintah lebih peduli dengan pelaku usaha kecil.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar