#prancis #kartunnabimuhammad #emmanuelmacron #pembunuhandinice

Pelaku Serangan Nice Tidak Masuk Daftar Badan Intelijen Prancis

( kata)
Pelaku Serangan Nice Tidak Masuk Daftar Badan Intelijen Prancis
Polisi Prancis berjaga di depan gereja tempat Brahim Aouissaoui melakukan penyerangan. AFP.


Paris (Lampost.co) -- Jaksa anti-terorisme Prancis, Jean-Francois Ricard mengatakan pelaku penyerangan di Nice tidak masuk dalam radar badan intelijen mereka. Pria berusia 21 tahun asal Tunisia itu baru masuk ke Prancis awal Oktober 2020. 

"Ia tidak ada dalam daftar orang dengan potensi ancaman," kata Ricard, dilansir dari AFP, Jumat, 30 Oktober 2020. 

Pelaku penyerangan di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis, diidentifikasi sebagai Brahim Aouissaoui.

Pelaku tiba di Prancis pada Oktober lalu dari pulau Italia, Lampedusa. Petugas berwenang menempatkan dia di pusat karantina kala itu sebelum melepaskannya.

Otoritas Prancis mengatakan Aouissaoui tidak memiliki dokumen identitas ketika polisi menembak dan melukainya setelah serangan itu. Namun, ia membawa dokumen yang menyebutkan namanya dari Palang Merah Italia. 

Berita terkait: Pelaku Serangan Nice Berasal dari Tunisia

Wali Kota Nice, Christian Estrosi, lewat akun Twitter mengatakan insiden di sekitar Gereja Notre Dame Basilica, Nice, merupakan serangan teror.

"Saya dapat mengonfirmasi semuanya. Biarkan kami berpikir ini adalah serangan teror di Notre-Dame Basilica," ujarnya.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengutuk tindakan teror yang ia sebut sebagai bentuk kegilaan itu. Macron lalu menyatakan Prancis akan selalu melawan paham ekstremisme dan terorisme. Dia juga menyatakan Prancis tetap akan mempertahankan nilai-nilai sekularisme.

Sejak rentetan kejadian ini, Pemerintah Prancis meningkatkan level keamanan. Tujuh ribu personel tentara dikerahkan untuk menjaga gereja di Prancis.

Medcom







Berita Terkait



Komentar