#terorisme#radikalisme

Pelaku Bom Bali, Hambali Bakal Diadili Militer AS

( kata)
Pelaku Bom Bali, Hambali Bakal Diadili Militer AS
Bom Bali. Dok MI


Washington (Lampost.co) -- Dunia akan segera mendapatkan pandangan baru pada pria yang dituduh merencanakan pengeboman Oktober 2002 di Kuta, Bali yang menewaskan 202 orang. Dia juga menjadi otak serangan 2003 di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta yang menewaskan 11 orang.

Riduan Isamuddin, juga dikenal sebagai Hambali, dan dua rekannya akan menghadapi dakwaan resmi di depan komisi militer di Teluk Guantanamo pada 30 Agustus.

Setelah sekitar 18 tahun, teroris asal Indonesia yang kini berusia sekitar 57 tahun ditangkap di Ayutthaya, Thailand pada 14 Agustus 2003, itu ditahan. Dia ditangkap dalam operasi gabungan Amerika Serikat (AS)-Thailand dan dipindahkan ke Guantanamo pada September 2006.

Dia diyakini para penyelidik mendalangi strategi organisasi teror jemaah islamiyah (JI) yang sebelumnya terkait dengan Al-Qaeda dan kemudian dengan ISIS, untuk menyerang sasaran empuk.

Hambali tidak secara resmi didakwa dengan kejahatan apa pun tetapi tetap dicari di Malaysia, Singapura, dan Filipina sehubungan dengan rencana aksi terorisme.

Pada Desember 2001, 15 anggota JI ditangkap di Singapura karena merencanakan serangan terhadap gedung-gedung pemerintah, kedutaan besar dan tentara AS di Republik.

Pada 2002 terjadi Bom Bali. Ini merupakan serangan teroris terburuk yang pernah ada di Indonesia. Diikuti pada 2003, ketika kelompok tersebut melakukan bom bunuh diri kembar di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta.

Tuduhan itu mencantumkan Hambali sebagai Encep Nurjaman, juga dikenal sebagai Riduan bin Isomudin, alias HAMBALI. Dua orang lain yang akan diadili bersamanya adalah Mohammed Nazir bin Lep, alias Lillie, dan Mohammed Farik binAmin, juga dikenal sebagai Zubair.

Lampiran menyediakan daftar panjang alias lain dari ketiganya.

Lembar dakwaan tertanggal April 2019 menjabarkan, dengan sangat rinci, perencanaan ketiganya sebagai kepala sekolah, sebagai ko-konspirator, dan sebagai peserta serangan Bali dan Jakarta, dan serangkaian rencana lain untuk serangan terhadap Amerika dan kepentingan Amerika. Termasuk gagasan menyerang prajurit Amerika, dan menenggelamkan kapal perang Amerika di Singapura.

“Ketiganya diklasifikasikan sebagai musuh asing yang tidak memiliki hak istimewa,” sebut lembar dakwaan itu, seperti dikutip The Straits Times, Selasa 29 Juni 2021.

Ketiganya diadili pada 30 Agustus karena pelanggaran yang dapat diadili komisi militer, termasuk pembunuhan yang melanggar hukum perang, percobaan pembunuhan yang melanggar hukum perang. Selain juga dengan sengaja menyebabkan cedera tubuh yang serius, terorisme, menyerang warga sipil, menyerang objek sipil dan perusakan properti yang melanggar hukum perang,” imbuh lembar dakwaan itu.

Pada 2016, tawaran Hambali untuk dibebaskan dari Guantanamo ditolak karena, menurut jaksa, dia masih merupakan ancaman signifikan bagi keamanan Amerika Serikat.

Sementara tuduhan awal diumumkan pada hari pertama pemerintahan Presiden Joe Biden. Ketika Biden menjadi Wakil Presiden Barack Obama, mereka berusaha tetapi gagal menutup penjara yang dikelola angkatan laut di Guantanamo dan memiliki tahanan yang tersisa, baik dibebaskan atau diadili di pengadilan sipil AS.

Pengganti Obama, Donald Trump, tidak menunjukkan minat pada Guantanamo dan narapidana, yang termasuk tokoh Al-Qaeda dan perencana serangan 9-11 Khalid Sheikh Mohammed.

Sedikit kemajuan yang dicapai pada status 40 tahanan yang tersisa di sana. Pada puncaknya sekitar 780 tahanan "perang melawan teror" ditahan di kamp tersebut. Sebagian besar telah dibebaskan kembali ke negaranya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar