#viruscorona#viruskorona#kesehatan#beritanasional

Pelacakan Covid-19 Sulit Bila Keluarga Pasien Tertutup

( kata)
Pelacakan Covid-19 Sulit Bila Keluarga Pasien Tertutup
Ilustrasi - Medcom.id.

Surabaya (Lampost.co): Ketua Rumpun Tracing Covid-19 Pemprov Jawa Timur, Kohar Hari Santoso, mengaku kesulitan melakukan tracing (melacak) masyarakat terinfeksi virus korona (covid-19). Ini lantaran keluarga pasien korona kurang kooperatif.

"Kami sudah berupaya melakukan pendekatan kepada keluarga pasien infeksi virus korona, tapi terkendala karena keluarga pasien kurang terbuka," kata Kohar, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu, 4 April 2020.

Kohar mengatakan, tim tracing terus berupaya menelusuri benang merah penularan pasien korona di Jatim yang telah berjumlah 152 orang. Namun, banyak klaster penularan covid-19 belum terklarifikasi hingga saat ini.

"Kami mohon agar direspons jika ada petugas tracing. Karena kami kesulitan mendapat klaster-klaster penularan covid-19, seperti di Surabaya dan di Sidoarjo," ujarnya.

Timnya baru mampu menelusuri satu klaster penularan covid-19 di Jatim. Klaster tersebut dari kegiatan Pelatihan Petugas Haji Indonesia 2020 yang digelar di Asrama Haji Surabaya, 9-18 Maret 2020.

Setidaknya ada 413 orang dari berbagai daerah di Jatim, bahkan dari Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT), terlibat dalam kegiatan itu. Dari jumlah tersebut, ada 19 orang dinyatakan positif covid-19.

"Delapan di antaranya adalah peserta petugas haji dari Lamongan," kata Kohar.

Kemudian ada satu klaster lainnya ditemukan di Sidoarjo. Salah satu ASN di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim positif covid-19. Pasien yang tinggal di daerah Candi itu pernah mengikuti rapat bersama Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di Jakarta.

"Setelah kami lakukan tracing, terhadap keluarga dan ASN lain di Dishub Jatim, tidak ada lagi orang yang dinyatakan positif covid-19. Tidak pula yang berstatus Pasien dalam Pengawasan (PDP)," jelasnya.

Sementara klaster di Surabaya masih sulit dilacak terhadap pasien covid-19 di Surabaya. Salah satu kendalanya keluarga pasien tidak terbuka, bahkan tertutup ketika ditanya tim tracing. "Klaster di Surabaya, benang merahnya sudah sulit terlacak. Mungkin karena pelacakan yang kita lakukan terlambat, sehingga sudah virus sudah menyebar," pungkasnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar