#pelabuhan#pertumbuhan#tajuk

Pelabuhan Pacu Pertumbuhan

( kata)
Pelabuhan Pacu Pertumbuhan
dok Lampost.co


PEMERINTAH terus mengoptimalkan keberadaan dry port (pelabuhan daratan) yang merupakan bagian integral dari sistem kepelabuhanan. Dry port diyakini turut berperan menekan durasi proses bongkar-muat kontainer di pelabuhan (dwelling time).

Akhir tahun lalu, pemerintah mulai merealisasikan keberadaan pelabuhan daratan di Indonesia dengan beroperasinya Cikarang Dry Port (CDP) yang dikelola PT Cikarang Inland Port. Keberadaan CDP terbukti efektif mengurangi beban Pelabuhan Tanjungpriok, dengan proses pemeriksaan barang kini beralih ke CDP.

Keberadaan pelabuhan daratan merupakan keniscayaan, dengan aktivitas pelabuhan tumbuh demikian pesat. Di berbagai negara terutama di Eropa, infrastruktur strategis ini sudah lama beroperasi dan telah menjadi sarana vital. Keberadaan dry port dapat menciptakan kawasan industri baru.

Karena itulah, publik Lampung patut menyambut positif dengan rencana penerapan dry port di Bumi Ruwa Jurai. Adalah Hutama Karya yang berencana membangun pelabuhan daratan di Pelabuhan Panjang. Hebatnya pelabuhan itu akan terintegrasi dengan ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Keberadaan dry port itu diproyeksikan untuk meladeni lalu lintas harian rata-rata (LHR) JTTS yang saat ini mencapai 11 ribu kendaraan per hari. Dengan beroperasinya JTTS secara penuh tahun ini, LHR JTTS akan meningkat hingga 17 ribu kendaraan.

Bagi perusahaan pelat merah tersebut, pengintegrasian dry port dan jalan tol tentu bernilai ekonomis dan diproyeksikan akan mempercepat pengembalian modal yang telah dikeluarkan untuk membangun jalan tol.

Dengan tersambungnya ruas Bakauheuni—Palembang, waktu tempuh distribusi barang akan memakan waktu kurang lebih empat jam dengan jarak 365 km. Sebelum adanya tol, waktu tempuh mencapai 12 jam.

Bagi para pengusaha, keberadaan dry port akan memangkas biaya distribusi yang harus mereka keluarkan dari terpangkasnya jarak dan waktu pengiriman barang. Keberadaan dry port akan menekan ekonomi biaya tinggi bagi pengusaha.

Tidak hanya itu, Hutama Karya pun menjadikan area dry port sebagai kawasan industri baru. Di sana juga akan dibangun perumahan, pergudangan, bahkan destinasi wisata baru. Rencana ini tentu akan menciptakan peluang investasi baru di Lampung.

Percepatan arus distribusi barang antara industri dan pelabuhan tentu juga akan mengurangi kapasitas lalu lintas, mengurangi tingkat kemacetan, dan menekan biaya perawatan jalan di Lampung.

Kita berharap keberadaan dry port Pelabuhan Panjang dapat terealisasi tanpa hambatan. Terlebih dari sisi kebutuhan lahan tidak ada persoalan dengan telah ditandatanganinya kerja sama antara Hutama Karya dan PTPN 7 untuk penggunaan lahan tidak produktif seluas 250 hektare milik perusahaan perkebunan tersebut. n

Tim Redaksi Lampung Post







Berita Terkait



Komentar