#pasutri#pilkades

Pasutri     

( kata)
Pasutri     
dokumentasi pixabay.com

ADA satu fenomena yang menarik dalam perhelatan pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak gelombang III di Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (26/6/2019). Tepatnya di Desa Pulaujaya, Kecamatan Palas, pilkades di desa itu diikuti dua calon kandidat yang merupakan pasangan suami-istri (pasutri). Sejoli itu adalah nomor urut 1 Supadi dan nomor urut 2 Roliyah. Usai melalui proses penghitungan suara, sang istri memenangkan kontestasi tersebut. 
 
Calon nomor urut 2 meraup 385 suara, sedangkan calon nomor urut 1 meraih sebanyak 368 suara. Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1.178 pemilih, hanya dihadiri sebanyak 772 suara dan suara tidak sah 19 suara. Mengenai calon kandidat pasangan pasutri ini, sejak pendaftaran calon pilkades tidak ada yang mendaftar, sehingga hanya mereka berdua yang bertarung dalam pilkades. 
 
Jadi, persaingan kepala desa di Desa Pulaujaya ini hanya dilakukan di satu rumah. Siapa pun pemenangnya, yang pasti yang ada di dalam rumah ini. Yang pasti, keduanya siap menang dan siap kalah, siap menerima kekalahan dan juga kemenangan. 
 
Sepertinya, pasutri ini tidak terlibat persaingan dalam memperebutkan jabatan kades. Kalau hubungan mereka sebagai suami istri harmonis, persaingannya sehat dan akur pastinya. Tidak ada perdebatan sana-sini, tidak ada saling tuduh, dan tidak ada saling salah, semuanya aman dan tenteram. 
 
Kejadian ini bila kita kaitkan dengan pemilu, terutama pilpres, akan terasa kesejukan apabila ada pasangan calon presiden dan wakil presiden dari suami istri, satu rumah. Ketika mereka berkampanye akan terasa nuansa kekeluargaan dan tidak terlihat adanya gontok-gontokan. 
 
Pelaksanaan tahapan pemilihan calon presiden dan wakil presiden akan terasa begitu tenteram, aman, damai, dan kita bisa tersenyum melihatnya. Tentu suasana damai menjadi dambaan setiap orang, khsusunya umat Islam. Sebab, kata Islam sendiri mengandung arti kedamaian. Lebih lengkapnya Islam berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk, dan patuh. 
 
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk mencintai sesama, tanpa membeda-bedakan agama dan golongan agar tercipta kerukunan dan kedamaian. Sebuah kedamaian akan tercipta dengan adanya ukhuwah, baik itu ukhuwah islamyiah, ukhuwah wathaniyyah, maupun ukhuwah basyariyyah. 
 
Ukhuwah Islamiyah oalah persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar agama (Islam); ukhuwah wathaniyyah tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya; sedangkan ukhuwah basyariyyah tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan, berlaku pada semua manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. 
 
Namun, apakah suasana seperti ini akan terjadi? Tentu kita berharap kedamaian akan terwujud di bumi Nusantara. Wallahualam bissawab. 
 
 

Ricky Marly, Wartawan Lampung Post

Berita Terkait

Komentar