#rusiaukraina#internasional

Pasukan Rusia Kuasai Sebagian Besar Severodonetsk

( kata)
Pasukan Rusia Kuasai Sebagian Besar Severodonetsk
Asap hitam dari pertempuran sengit mengepul di kota Severodonetsk, Ukraina, 9 Juni 2022. ARIS MESSINIS / AFP


Luhansk (Lampost.co) -- Pasukan Rusia kini menguasai sebagian besar kota Severodonetsk, episentrum pertempuran berdarah di Donbas di bagian timur Ukraina. Pertempuran antara pasukan Rusia dan Ukraina berlanjut sepanjang Sabtu di berbagai ruas jalan Severodonetsk.


"Situasi di lapangan masih sangat sulit. Pertempuran berlanjut dan sebagian besar kota berada di bawah kendali Rusia," kata Gubernur Luhansk, Serhiy Haidai.

"Beberapa pertempuran berlangsung di jalanan," sambungnya, dikutip dari CNN, Minggu, 12 Juni 2022.

Baca juga: Rusia Klaim Kuasai 97 Persen Wilayah di Luhansk

Haidai mengatakan area-area pertempuran paling aktif di Donbas belakangan ini adalah Severodonetsk, Popasna dan wilayah di sepanjang sungai Siverskyi Donets. Ia menyebut pasukan Rusia menggunakan artileri roket jenis thermobaric yang sangat destruktif.

Artileri tersebut, lanjut Haidai, digunakan Rusia untuk menghancurkan banyak bangunan yang digunakan pasukan Ukraina untuk berlindung. Untuk itu, pasukan Ukraina secara berkala harus terus bergerak untuk mencari tempat perlindungan baru.

Sementara itu dalam pidato pada Sabtu malam, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memuji perjuangan pasukannya di Donbas. Ia mengaku sangat bangga atas para pejuang yang terus memerangi musuh selama berpekan-pekan.

Ia menyebut pertempuran di Severodonetsk mungkin dapat menjadi penentu hasil akhir dari peperangan di Ukraina timur. "Severodonetsk masih menjadi episentrum konfrontasi di Donbas," ungkap Zelensky sebelumnya pada pekan ini. 

"Ini pertempuran yang sangat sengit, sangat sulit. Mungkin salah satu yang tersulit sepanjang perang ini. Nasib Donbas kami diputuskan dalam pertempuran ini," lanjutnya.

Severodonetsk terletak di jantung Donbas, sebuah kawasan industri di Ukraina timur yang menjadi medan pertempuran antara pasukan Ukraina dan separatis pro-Rusia sejak 2014.

 

 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar