#paskah#misa#kebangkitan#beritalampung

Paskah Bangkit dari Dosa dan Kemalasan

( kata)
Paskah Bangkit dari Dosa dan Kemalasan
Misa Paskah. (Foto:Antara)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Perayaan Paskah dapat dimaknai sebagai kebangkitan manusia dari belenggu dosa dan kemalasan menuju kualitas hidup yang lebih baik. Kebangkitan di era kekinian bisa dilakukan setiap hari tanpa harus menunggu mati.

"Kebangkitan itu harus terus dihidupkan, tidak perlu menunggu mati. Kebangkitan bisa dilakukan setiap hari, tidak hanya saat Paskah. Semisal, malam sebelum tidur secara rutin meluangkan waktu untuk introspeksi diri. Mengingat kembali dosa dan kesalahan apa saja yang sudah diperbuat selama sehari untuk kemudian memperbaiki diri di esok hari," kata Romo Stefanus Wawan MSF saat memimpin misa malam Paskah di Gereja Santo Yohanes  Rasul, Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu (20/4/2019).

Romo Wawan melanjutkan introspeksi diri dan perbaikan sikap pribadi secara berkelanjutan akan meningkatkan kualitas hidup dan dapat menjadi teladan bagi orang lain. Sebab dalam banyak hal orang lebih percaya dengan melihat keteladanan dibandingkan sekadar teori. 

"Yesus tidak hanya berteori, tetapi langsung memberikan teladan. Keteladanan itu dibuktikan Yesus dengan mengorbankan diri-Nya untuk dihina, disiksa, dihukum mati, dan akhirnya bangkit kembali," ujarnya.

Dalam sejarahnya, Paskah mengalami tiga perubahan makna. Pertama, Paskah sebagai ungkapan syukur dan persembahan atas panen hasil bumi. Kedua, Paskah sebagai pembebasan perbudakan bangsa Israel dari kekuasaan Firaun di Mesir. Ketiga, Paskah untuk memperingati kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Misa Paskah merupakan puncak rangkaian Tri Hari Suci setelah perayaan Kamis Putih dan Jumat Agung. Misa malam Paskah sekitar 2,5 jam itu dibagi dalam empat bagian, yakni upacara cahaya, liturgi sabda, liturgi baptis termasuk pembaruan janji baptis, dan liturgi Ekaristi.

D.Widodo







Berita Terkait



Komentar