#Covid-19lampung#beritalampung

Pasien Covid-19 Habiskan Rp2 Juta selama Isolasi Mandiri

( kata)
Pasien Covid-19 Habiskan Rp2 Juta selama Isolasi Mandiri
Penyintas covid-19. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sejumlah masyarakat di Bandar Lampung memilih untuk isolasi mandiri dibandingkan melakukan perawatan intensif di rumah sakit. Namun, selama menjalani isolasi di rumah, pasien covid-19 bisa menghabiskan biaya Rp2 juta untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi.

"Saya terjangkit Covid-19 pada 6 Januari 2021 dan dinyatakan sembuh pada 20 Januari. Dalam pemeriksanaan pertama saya memilih untuk menjalankan perawatan di rumah karena saya tak mengalami gejala yang berarti," kata salah satu penyintas, Ika Wiana.

Selama isolasi, dia melakukan berbagai aktivitas di rumah dan tanpa keluar ruangan. Namun, selama itu juga, warga perum Rajabasa Indah itu selalu dipantau Puskesmas dengan memberikan pengawasan secara intensif, pemberian vitamin dan obat-obatan.

"Pelayanan Puskesmas terus menerus memastikan obat-obatan dan vitamin tersedia. Sehingga yang saya keluarkan hanya biaya makanan dan cemilan selama karantina," kata dia.

Di masa itu, dia mengaku menghabiskan biaya sekitar Rp1,7 juta dalam belasan hari. Biaya tersebut hanya untuk keperluan makannya sendiri. 

Penyintas covid-19 lainnya mengaku selama isolasi mandiri di rumah menghabiskan biaya Rp2 juta dalam 3 minggu.

"Itu untuk susu, vitamin dan beberapa keperluan lainnya yang saya rasa menjadikan kondisi badan membaik tiap harinya," kata Diana, salah satu mahasiswa Unila itu.

Di masa penyembuhan, dia hanya berfokus untuk mengkonsumsi vitamin, susu, dan buah, serta tak mengkonsumsi obat-obat yang tak diketahui.

"Saya isolasi mandiri karena cuma hilang penciuman, tapi selebihnya nggak ada yang membahayakan," katanya yang menjalankan isoman bersama sang Adik.

Menurutnya, atas kondisinya tersebut sempat membuat tetangga dan kerabat dekat terkejut dan khawatir. Namun, seiring berjalannya waktu tetangga mulai membantunya untuk membantu menyuplai makanan.

"Awalnya saya seperti ditolak, tapi setelah ada edukasi dari RT dan lainnya, tetangga mulai peduli dan justru sering memberikan makanan, buah dan sebagainya untuk saya," kata dia.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar