#paradigma#pendidikan#jepang#itera

Paradigma Pendidikan Jepang Budayakan Kerjasama Tim

( kata)
Paradigma Pendidikan Jepang Budayakan Kerjasama Tim
Wakil Rektor ITERA Bidang Akademik Itera Mitra Djamal, menyerahkan cenderamata kepada Pakar Pendidikan Kanazawa University Jepang Prof. Keiichiro Yoshinaga

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengadakan studium general pendidikan, Selasa, 19 November 2019. Agenda tersebut membahas paradigma baru pendidikan di Jepang, dengan menghadirkan pakar pendidikan asal Kanazawa University, Jepang, Prof. Keiichiro Yoshinaga, di Aula Gedung Kuliah Umum Itera.

Kuliah umum yang dimoderatori oleh Direktur Itera International Office, Acep Purqon, Ph.D., tersebut mengupas metode baru dalam proses belajar mengajar yang berubah seiring perkembangan zaman. 

Prof. Keiichiro Yoshinaga menyampaikan paradigma pendidikan lama memprioritaskan penilaian berdasarkan hasil ujian, dan tes, hal ini sangat bagus untuk diterapkan. Namun saat ini, paradigma pendidikan baru lebih kepada pengembangan individual, skill, kreatifitas, komunikasi serta kemampuan membangun jejaring.

Konsentrasi proses belajar mengajar bukan lagi bagaimana mentransfer ilmu tetapi bagaimana merajut ilmu dari passion siswa itu sendiri. Dalam sistem pembelajaran baru, budaya kerja sama tim lebih diutamakan, serta pemberian tugas lebih kepada merancang konsep desain atau design-based solution.

“Karena setiap individu siswa itu unik dan memiliki karakter masing-masing. Jadi biarkan mereka merancang ide besar sesuai khasnya masing-masing,” ujar Prof. Yoshinaga.

Wakil Rektor Itera Bidang Akademik, Prof. Dr-Ing Mitra Djamal, mengapresiasi studium general yang menghadirkan langsung pakar pendidikan asal Jepang. Ia berharap mahasiswa dapat menggali banyak informasi seputar pendidikan di Jepang, dan peluang untuk dapat melanjutkan studi ke negara tersebut.

Kemudian, Direktur ITERA International Office, Acep Purqon,Ph.D juga menambahkan bahwa China, Korea dan Jepang termasuk negara-negara yang mengandalkan serta membangun kekuatan melalui sumber daya manusia, khususnya dengan penguatan bidang science, technology, engineering and mathematic (STEM).

“Lulusan pendidikan di bidang teknik pun harus mengedepanan kepada inovasi dan entrepreneurship, memiliki skill dan pengetahuan sosial dan bisnis serta merancang konsep desain dan lainnya.”

Acep juga menyebut, saat ini dunia bisnis sedang berada dalam fase yang disebut VUCA yakni volatile (bergejolak), uncertain (tidak pasti), complex (kompleks), dan ambigue (tidak jelas), sehingga membutuhkan skill dan kreativitas untuk dapat bertahan dan berinovasi.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar