#Mimbar#vaksin

Para Penyangkal Vaksin

( kata)
Para Penyangkal Vaksin
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


SAYA pernah menulis Para Penyangkal Covid di forum ini, beberapa bulan lalu. Tulisan itu saya alamatkan untuk mereka yang nekat menolak penerapan protokol kesehatan covid-19. Selain itu, mereka menyebutkan bahwa korona itu tak ada dan konspirasi belaka. Begitu covid-19 itu kian merajalela, bahkan menimpa para penyangkal itu, penolakan protokol kesehatan mulai berkurang.

Namun, episode penyangkalan masih berlanjut. Kali ini terkait dengan program vaksinasi covid-19. Para penyangkal itu tetap bermain dengan narasi yang sama bahwa vaksinasi itu tidak diperlukan dan bagian dari konspirasi bisnis juga. Demi 'menguatkan' pendapat mereka, para penyangkal menyebutkan bahwa vaksin justru berbahaya. Beragam narasi mengerikan berisi informasi salah dan palsu pun disebarkan.

Akhir pekan lalu, misalnya, beredar melalui aplikasi percakapan pesan berantai yang berisi klaim terkait dengan orang yang akan meninggal dunia dalam dua tahun setelah divaksin covid-19. Dalam pesan berantai yang beredar, klaim itu disampaikan Mike Yeadon, bekas Ketua Saintis di firma vaksin Pfizer. Ternyata, pernyataan tersebut punya cacat di banyak sisi. Informasi tersebut juga muncul di berbagai grup pertukaran pesan di Tanah Air.

Yeadon, sang penebar klaim salah tersebut, ternyata sudah beberapa kali mengeluarkan klaim terkait dengan teori konspirasi menyangkut pandemi covid-19. Ternyata pula, fakta menunjukkan bahwa Michael Yeadon memang pernah bekerja di Pfizer hingga 2011. Namun, jabatannya bukanlah sebagai Ketua Saintis Pfizer seperti yang diklaim dalam sejumlah video dan artikel.

Dia bekerja di sana sebagai Wakil Presiden dan Kepala Ilmuwan di unit penelitian penemuan obat di Pfizer. Divisi yang dipimpinnya berfokus pada penelitian medis alergi dan pernapasan, bukan vaksin atau penyakit menular. Klaim yang dibuat Yeadon pun tidak berdasar dan tidak memiliki bukti ilmiah atau empiris secuil pun.

Beberapa pekan sebelumnya, juga muncul informasi salah yang memyebutkan ada 14 orang di berbagai daerah di Indonesia meninggal karena disuntik vaksin covid-19. Setelah diinvestigasi dan dicek faktanya, ke-14 orang itu meninggal karena penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga hipertensi. Tidak ada secuil pun bukti bahwa mereka meninggal karena vaksin.

Klaim-kalim antisains seperti itu memang telah muncul beratus tahun yang lalu, bahkan sudah mengiringi saat vaksin pertama kali ditemukan. Pada 1798, ilmuwan Inggris Edward Jenner menciptakan kata vaksin dari bahasa Latin vacca untuk sapi. Jenner menemukan vaksin pertama kali di dunia setelah menyaksikan korban berjatuhan, di Inggris bahkan merenggut 20% populasi Inggris kala itu, akibat serangan virus cacar bertahun-tahun nan mematikan.

Saat awal-awal menemukan vaksin, Jenner juga diejek secara luas. Kritikus, terutama pendeta, menyatakan, menyuntik seseorang dengan materi dari hewan yang sakit ialah tindakan yang menjijikkan dan tidak saleh. Pada 1802, sebuah kartun satire memperlihatkan orang-orang yang telah divaksinasi menumbuhkan kepala sapi. Banyak juga yang menyebut Jenner mengidap penyakit gila yang amat serius.

Namun, keuntungan nyata dari vaksinasi dan perlindungan yang Jenner berikan merupakan pembuktian dari keberhasilan vaksin tersebut. Itu baru dicapai empat dasawarsa kemudian. Saat itu, pada 1840, dengan uji coba awal Jenner tersebut akhirnya pemerintah Inggris mengganti inokulasi dengan vaksinasi yang baru.

Pemerintah dan ratu pun kagum dengan penemuan Jenner. Vaksinasi cacar tersebut selanjutnya menyelamatkan miliaran nyawa dan pada akhirnya memicu inisiatif global yang akan menjadi program pertama dan satu-satunya untuk memberantas penyakit menular.

Vaksinasi atau imunisasi merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati. Vaksin bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya ialah membuat sistem kekebalan tubuh serta mengenali dan melawan saat terkena penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri penyebabnya. Namun, infeksi virus korona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan vaksinasi.

Vaksin covid-19 yang sudah tiba di Indonesia berisi virus korona (SARS-CoV-2) yang sudah dimatikan. Dengan mendapatkan vaksin covid-19, Anda bisa memiliki kekebalan terhadap virus korona tanpa harus terinfeksi terlebih dahulu. Seseorang yang mendapatkan vaksin covid-19 juga dapat melindungi orang-orang di sekitarnya, terutama kelompok yang sangat berisiko, seperti warga lansia di atas 70 tahun. Hal ini karena kemungkinan orang yang sudah divaksin untuk menularkan virus korona sangatlah kecil.

Ilmu pengetahuan, penelitian, pembuktian ilmiah sudah didapatkan vaksin covid-19. Jadi, percuma saja menyangkal, apalagi bila disertai narasi yang mengerikan dan menakut-nakuti orang lain. Jangan jadi pengecut seperti itu. Telah banyak sangkalan soal covid-19 yang nyatanya salah dan kalah oleh fakta ilmiah. So, bertobatlah wahai para penyangkal.

Winarko







Berita Terkait



Komentar